Tampilkan postingan dengan label islam itu indah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label islam itu indah. Tampilkan semua postingan

9 Januari 2015

lebih baik sendiri menikmati



Daripada sendiri menyepi, lebih baik sendiri menikmati. 
Hidup akan tetap indah, kawan. Yang perlu kita lakukan hanya sedikit bergeser dari sudut padang yang merana ke merona, sebab senyum itu ke samping, bukan ke depan.
Muslim itu sepantasnya memiliki semangat yang berlimpah. Karena ia tak hanya harus menyemangati dirinya sendiri, tapi juga orang-orang di sekitarnya. Ghirah, begitu bahasa kerennya. Jadi muslim itu harus memiliki ghirah di atas rata-rata. Karena ghirah itu seperti lokomotif dalam perjalanan hidup. Seberapa cepat kita menjadi baik, berbuat baik, dan menuju kebaikan, tinggal tengok saja seberapa kadar ghirah kita melakukan itu.
Hidup tetap saja indah. Itu artinya, jika kita tak merasa sedang indah, mungkin kita seperti sedang tidak hidup. Hidup, tapi tidak hidup.
Tersenyumlah, kita ngomongin yang indah-indah saja.

11 April 2011

Sesama Muslim Bersaudara Lho...


Pernahkan kita mendengar hadist-hadist mengenai adab sesama muslim?

Bagaimana cara ‘hidup lebih baik’ dengan membina hubungan yang baik dengan orang lain di sekitarnya, itu adalah fokus bahasannya. Bagaimana cara berinteraksi dengan orang lain, mengasah kepekaan emosional, bertoleransi, selalu bersikap positif, tips-tips cara mendapat dan mempengaruhi teman, cara berkomunikasi yang baik, dengan think win-win, memahami lebih dahulu, maupun bersinergi.

Bagaimana cara ‘hidup lebih baik’ dengan membina hubungan yang baik dengan orang lain di sekitarnya

Menariknya, Islam sebagai agama yang sempurna, sudah mengajarkan semua itu, dengan Rasulullah saw sebagai model utamanya. Innama bu’itstu liutammima makaarimal akhlaq, sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq, demikian sabda Rasulullah saw. Akhlaq dalam seluruh bidang kehidupan, bagaimana berinteraksi dengan orang tua, dengan sanak keluarga, dengan tetangga, dan seterusnya.

Nah, berikut ini adalah tips-tips dari Rasulullah saw bagaimana cara berinteraksi dengan sesama muslim :

1. mencintai muslim lain sebagaimana mencintai dirinya sendiri.
”Tidak beriman salah seorang di antara kamu sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari-Muslim)

”Tidak beriman salah seorang di antara kamu sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari-Muslim)

2. menyukai apa yang disukai muslim lain sebagaimana dirinya menyukai apa yang dia sukai, dan membenci apa yang dibenci muslim lain sebagaimana dirinya membenci apa yang dia benci.
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang dengan sesama mereka seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan baik (sakit) demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Bukhari-Muslim)

3.  tidak menyakiti muslim lain dengan perbuatan atau perkataan.
”Seorang muslim adalah orang yang muslim lainnya selamat dari gangguan lidah dan tangannya.” (HR. Bukhari-Muslim)

4.  bersikap tawadhu kepada setiap muslim dan tidak sombong kepadanya.
”Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku hendaklah kamu tawadhu sehingga tidak ada orang yang membanggakan diri kepada yang lain.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Maajah)

5. tidak menyampaikan berita atau gunjingan kepada sebagian yang lain tentang apa yang didengarnya dari sebagian yang lain.
”Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba.” (HR. Bukhari-Muslim)

6.  kalau marah, maka tidak boleh mengindarinya lebih dari tiga hari.
”Tidak boleh seorang muslim menghindari saudaranya lebih dari tiga hari, keduanya saling bertemu lalu saling berpaling. Sebaik-baik orang di antara keduanya adalah orang yang memulai mengucapkan salam.” (HR. Bukhari-Muslim)

7.  melakukan kebaikan kepada setiap muslim semampunya dengan tidak membedakan antara keluarga dan yang bukan keluarga.
”Abu Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah saw tidak pernah berbicara dengan seseorang melainkan beliau menghadapkan wajahnya ke wajah teman bicaranya lalu Rasulullah saw tidak akan berpaling dari wajah seseorang sebelum ia selesai berbicara.” (HR. ath-Thabrani)

8.  tidak masuk ke rumah muslim lain tanpa meminta izin, jika sampai tiga kali tidak diizinkan maka harus kembali.
”Meminta izin itu tiga kali. Yang pertama untuk menarik perhatian tuan rumah, kedua memperbaiki, dan ketiga agar memberi izin atau menolak.” (HR. Bukhari-Muslim)

9.  bersikap sopan kepada setiap muslim dengan akhlaq yang baik dan berinteraksi dengan mereka sesuai dengan keadaannya.
”Hindarilah api neraka sekalipun dengan separoh korma. Lalu siapa yang tidak memilikinya, maka dengan perkataan yang baik.” (HR. Bukhari-Muslim)

10.  menghormati orang tua dan menyayangi anak-anak.
”Tidak termasuk dalam golongan kami orang yang tidak menghormati orang tua dan tidak menyayangi anak kecil.” (HR. Bukhari dan Abu Dawud)

11.  selalu memberikan kegembiraan, bermuka manis, dan bersikap lembut kepada semua muslim.
”Tahukah kamu kepada siapa api neraka diharamkan?” Para sahabat menjawab, ”Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Lalu Nabi saw bersabda, ”Kepada orang yang lemah lembut, yang selalu memudahkan, dan selalu dekat (akrab)” (HR. Tirmidzi)

12.  janganlah berjanji kecuali bermaksud menepatinya.
”Tiga hal ada pada diri orang munafik, apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila diberi amanah ia berkhianat.” (HR. Bukhari-Muslim)

”Tiga hal ada pada diri orang munafik, apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila diberi amanah ia berkhianat.” (HR. Bukhari-Muslim)

13.  bersikap adil dan tidak melakukan sesuatu kepada muslim lain kecuali apa yang ia sukai untuk diperlakukan kepada dirinya.
”Siapa yang ingin dijauhkan dari api neraka dan masuk surga maka hendaklah ia mati dalam keadaan bersaksi Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, dan hendaklah ia memperlakukan orang lain dengan sesuatu yang disukainya jika dilakukan pada dirinya.” (HR. Muslim)

14.  menghormati muslim lain yang penampilan dan pakaiannya menunjukkan kedudukannya sehingga dirinya bisa menempatkannya sesuai dengan kedudukannya.
”Apabila orang dimuliakan suatu kaum datang kepada kamu, maka muliakanlah ia.” (HR. al-Hakim)

15.  mendamaikan sesama muslim yang bersengketa jika menemukan jalan (penyelesaian) ke arah itu.
”Bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara kamu karena sesungguhnya Allah akan memperbaiki hubungan di antara orang-orang beriman di hari kiamat.” (HR. al-Hakim)

16.  menutupi aib setiap muslim.
”Siapa yang menutupi aib seorang muslim maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim)

”Siapa yang menutupi aib seorang muslim maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim)

17.  menghindari tempat-tempat yang bisa mendatangkan tuduhan demi untuk menjaga hati orang lain agar tidak berburuk sangka dan juga untuk menjaga lidah mereka agar tidak menggunjing.
Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra bahwasanya Rasulullah saw berbicara dengan salah seorang istrinya kemudian ada laki-laki lewat lalu dipanggil oleh Nabi saw seraya berkata, ”Ya Fulan, ini adalah istriku Shafiyyah.”

18.  memintakan bantuan bagi setiap muslim yang membutuhkan pada orang yang memiliki kedudukan dan berusaha memenuhi kebutuhan saudaranya itu sesuai kemampuannya.
”Sesungguhnya aku diberi dan diminta. Sering dimintakan kepadaku kebutuhan-kebutuhan sedangkan kamu ada di sisiku, maka ikutlah memberi bantuan agar kamu diberi pahala dan Allah swt memutuskan apa yang dicintai-Nya melalui kedua tangan Nabi-Nya.” (HR. Bukhari-Muslim)

19.  mengucapkan salam terlebih dahulu sebelum berkata kepada muslim lain dan menjabat tangan ketika memberi salam itu.
”Jika salah seorang di antara kamu bertemu dengan saudaranya maka ucapkanlah, ’Assalamu’alaikum warahmatullah.’” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan an-Nasa’i)
”Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu berjabatan tangan melainkan keduanya akan diampunkan (dosanya) sebelum mereka berpisah.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

20.  menjaga kehormatan jiwa dan harta saudaranya sesama muslim dari kezhaliman orang lain apabila dirinya mampu membela dan menolong serta mampu memperjuangkannya sebab itu merupakan kewajiban baginya.
”Barangsiapa yang membela kehormatan saudaranya maka ia akan terlindung dari api neraka.” (HR. Tirmidzi)

21.  menjawab ucapan muslim lain yang bersin.
”Seorang muslim yang bersin dijawab jika ia bersin tiga kali dan jika (lebih dari tiga kali) maka itu adalah penyakit flu.” (HR. Abu Dawud)

22.  memberi nasihat kepada setiap muslim dan bersungguh-sungguh ingin selalu memberikan kegembiraan ke dalam hati setiap muslim itu.
”Sesungguhnya salah seorang di antara kamu adalah cermin bagi saudaranya, jika ia melihat sesuatu (pada saudaranya) maka hendaklah ia membersihkannya.” (Hr. Abu Dawud dan Tirmidzi)

23.  menjenguk muslim yang sakit.
”Siapa yang menjenguk orang sakit berarti ia duduk di taman-taman surga, sampai-sampai jika ia hendak berdiri, maka ditugaskan tujuh puluh ribu malaikat yang mendoakannya sampai malam hari.” (HR. al-Hakim)

24.  mengantar (mengiringi) jenazah muslim yang meninggal.
”Barangsiapa yang mengantar jenazah maka akan mendapatkan pahala satu qirath. Jika ia berdiri sampai jenazah itu dikubur maka ia mendapatkan pahala dua qirath.” (HR. Bukhari-Muslim)
”Satu qirath seperti (berat/besarnya) bukit Uhud.” (HR. Muslim)

”Satu qirath seperti (berat/besarnya) bukit Uhud.” (HR. Muslim)

25.  menziarahi kuburan muslim.
”Aku belum pernah melihat pemandangan yang lebih menakutkan dari kuburan.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Maajah, al-Hakim)

Maraji’/referensi: Tazkiyatun Nafs, Sa’id Hawwa


10 April 2011

siapa loe ?


SIAPA di antara kita yang belum pernah mendengar kata “Be Your Self”? rasa-rasanya tidak ada. Benar, kan..? Yups, pasti anda menjawab benar. Kalo begitu, kita sama. hehehe…!

Kata “Be Your Self” hanya merupakan salah satu di antara sekian banyak nasihat (baca: kata mutiara) manajemen kepribadian. Entah siapa yang pertama kali menyusun kata-kata ini. Satu yang pasti nasihat tidak dibuat kecuali dengan tujuan mendatangkan manfaat. Seperti: “Berkatalah yang baik atau diam”, “you are what you think”, dan where there is will there is way.”

Bagi yang belum, tidak, atau tidak mau tahu makna “Be your self”, mungkin saja akan menyimpulkan dengan: lakukan apa saja yang engkau ingin kerjakan semaumu. Tanpa perlu mempedulikan arahan-arahan Allah dan Rasul SAW sekalipun. Lalu, ia melakukan perbuatan apa saja. Tentang dosa dan pahala, jangan ditanya. Jika kemudian ada yang bertanya, mengapa ia berbuat seperti itu? Ia akan menjawab: “aku mau menjadi diriku sendiri, bukan orang lain!”. Sangat naïf, karena dengan penafsiran seperti itu, justru membuatnya semakin tidak mampu menjadi diri sendiri. Menjadi penyembah hawa nafsu. Dan kian menjauh dari cahaya petunjuk.

Allah SWT berfirman: “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhan (sesembahan). Allah membiarkan mereka sesat berdasarkan ilmu-Nya” (Qs. Al-Jatsiyah 23).

Padahal, andaikan mereka mau sedikit “cerdas” mencerna makna dari kata mutiara itu, pasti akan mendapati dirinya diliputi hidayah Allah SWT.

Untuk menjadi diri sendiri, kita terlebih dahulu harus melalui satu pintu: pintu pengenalan diri (baabu ma’rifatin-nafsi). Hanya dengan mengenali hakikat diri, kita bisa menjadi diri sendiri. Pernahkah kita berpikir tentang eksistensi kita di dunia ini? Siapa yang menjadikannya, dari bahan dasar apa kita berasal, dan untuk tujuan apa kita ada? Cobalah, gunakan akal sehat anda sendiri. Lalu resapilah setiap jawaban-jawaban itu ke dalam hati!

Adakah di antara kita yang mampu menciptakan dirinya sendiri? Dari bahan dasar apakah kita terbuat? Dan hendak ke mana kita setelah (hidup di dunia) ini?

Renungkan, renungkanlah sahabat. Temukan jawaban dari tiap-tiap pertanyaan di atas satu demi satu. Sertakan argumentasi yang masuk akal dan tidak dibuat-buat. Jangan terburu-buru meminjam jawaban dari wahyu: Al-Qur’an maupun Al-Hadits. Mampukah anda menemukan jawaban yang benar-benar meyakinkan, rasional (bisa diterima akal sehat) dan, tanpa menyisakan satu pun pertanyaan baru? Kalau tidak, mari, kita temukan jawabannya melalui kalam Allah yang suci.

Allah berfirman: “Darinya (tanah) kami menciptakan kalian, kepadanya (tanah) kalian akan dikembalikan, dan darinya (tanah) kalian akan dibangkitkan” (Qs. Al-Hajj 31).

Dari sini kita bisa memahami, bahwa ternyata kita hanyalah makhluk (ciptaan). Kalau ada makhluk, berarti pasti ada Khaliq (Pencipta). Dan Khaliq (Sang Maha Pencipta) itu adalah Allah. Allah yang menciptakan kita dari bahan dasar tanah, akan dikembalikan ke tanah (dimatikan), dan akan dibangkitkan (setelah kematian kita itu) dari tanah, untuk mempertanggungjawabkan segala amal perbuatan kita di dunia.

….Be Your Self” menjadi diri sendiri artinya menjadi hamba Allah yang terbaik. Ridha atas segala keputusan-Nya, Rela diatur hukum-hukum-Nya, dan bersabar terhadap setiap musibah yang menimpa….

Sehingga, menjadi diri sendiri artinya menjadi hamba Allah yang terbaik. Ridha atas segala keputusan-Nya, Rela diatur hukum-hukum-Nya, bersyukur atas semua nikmat yang diberikan-Nya, dan bersabar terhadap setiap musibah yang menimpa. Seperti generasi sahabat di masa Rasul SAW. Saat mendengar perintah berhijab (menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan), wanita-wanita muslimah segera mengambil kain apa saja yang ada di dekatnya untuk menutup setiap bagian tubuh yang haram dilihat selain mahram. Ketika sudah turun perintah shalat, mereka mengerjakannya tanpa alasan ini itu. Dan, setelah diwajibkan perintah berjihad, kaum muslimin bersegera menyambut seruan itu dengan ringan atau pun berat hati. Sebab, para sahabat telah mengenali hakikat diri mereka sendiri sebagai hamba Allah. Sehingga, mereka ridho dengan Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama dan Muhammad SAW sebagai nabinya.

Untuk itu, sahabat, mulai saat ini katakan dengan penuh percaya diri: “Be Your Self!”


Jangan Menyerah dan Surut Langkah



“Ketika kau sudah memilih, konsistenlah. Karena dari situlah kunci kesuksesanmu bermula. Bila kau mudah menyerah dan surut langkah, maka jangan pernah bermimpi tuk menjadi sang juara”

Sobat, hidup ini adalah pilihan. Di dalam pilihan ini, akan bertebaran banyak pilihan kehidupan lainnya. Jangan bingung ya. Kamu mau sekolah,kuliah atau tidak, itu pilihan. Mau bolos apa mau rajin belajar, juga pilihan. Intinya, setiap pilihan selalu mengundang resiko dan tanggung jawab masing-masing.

Pilihan untuk sekolah, maka kamu harus rajin belajar. Pilihan untuk suka membolos, resikonya kamu ketinggalan pelajaran dan bisa tidak naik kelas. Tak ada yang bisa disalahkan dalam hal ini kecuali dirimu sendiri. Tak pantas bila hujatan dan kesalahan kamu timpakan pada pihak lain padahal masalah sebenarnya ada pada diri sendiri. Tak layak pula bila kamu menganggap remeh orang yang berusaha mengingatkanmu padahal sesungguhnya mereka peduli.

Sobat, janganlah bersikap kekanakan. Usia remaja bukan alasan untuk plin-plan dan mengingkari hasil pilihan sendiri. Kamu telah dewasa. Mau tidak mau kamu telah tumbuh menjadi sosok yang berbeda dari sebelumnya. Bahkan Islam sendiri tak mengenal kata remaja, yang ada hanyalah anak-anak dan dewasa. Batas dari kedua dunia itu hanyalah sepercik darah haid dari perempuan dan mimpi basah pada laki-laki. Dan batas inilah yang membedakan apakah seseorang terkena taklif syara’ ataukah tidak.

Hidup tak selamanya mulus. Begitupun dengan pilihan yang telah kau ambil. Selalu ada batu kerikil yang mencoba menghalangi langkahmu untuk meraih tujuan. Jangan menyerah! Yang namanya batu kerikil itu kecil. Jiwamu yang besar pasti akan mampu meminggirkan si kerikil dari jalan cita-citamu. Jangan cengeng! Sungguh malu sekali bila hanya dengan sebutir kerikil kamu memutuskan surut langkah dan berputar mencari jalan lain yang masih belum jelas arah dan tujuannya.

….Hidup tak selamanya mulus. Begitupun dengan pilihan yang telah kau ambil. Selalu ada batu kerikil yang mencoba menghalangi langkahmu untuk meraih tujuan. Jangan menyerah!....

Jadilah seseorang yang berjiwa besar dan bertanggung jawab terhadap setiap pilihan hidup yang diambil. Fokuslah pada cita-cita semula seolah semua siap di depan mata sehingga membuatmu bergegas langkah. Sakit sedikit dalam perjalanan, itu adalah bumbu penyedap yang nantinya akan terasa nikmat ketika kamu telah tiba di tempat. Yakinlah, akan ada masanya ketika kamu mentertawakan saat ini di mana kamu teruji dengan batu kerikil kecil namun seolah-olah batu gunung sebesar rumah yang datang menimpa.

Kamu pasti bisa! Bila bukan dirimu yang yakin dengan dirinya sendiri, lalu siapa lagi yang bisa meyakinkannya? Ayo bangkitlah! Jangan sampai nanti kamu berada di satu titik, meratapi saat-saat ini yang kan menjadi masa lalu, dan kemudian menyesali mengapa mengambil langkah keliru. Ingatlah kata-kata yang entah kudapat darimana bahwa apa yang tidak membuatmu mati, maka yakinlah itu akan semakin menguatkan dirimu. Yakin saja! [voa-islam.com]

(dedicated to semua yang merasa hampir menyerah, kalah dan putus asa. Semoga tulisan ini mampu kembali meletupkan semangat kalian mengejar cita-cita).

9 April 2011

MemilihTeman yang Bisa Membawa ke Surga


Pertemanan (friendship) merupakan sebuah makna signifikan yang mesti ditarsirkan ulang. Makna dari “teman baik” berbeda dari satu orang ke yang lainnya. Sebagian orang meyakini bahwa teman baik adalah seseorang yang dapat dipercaya dan menjadi tempat untuk menceritakan semua rahasia. Sementara yang lain mendefinisikannya sebagai seseorang yang setia menemani baik ketika sedih maupun bahagia.

Kendati opini tentang definisi teman bervariasi, namun semuanya relatif benar. Dan jika kita meletakkan berbagai pandangan itu bersama-sama, maka semuanya bisa membentuk sebuah definisi sebenarnya tentang teman yang baik. Namun sejatinya masih terdapat sebuah makna signifikan dan peran dari sahabat baik yang sangat penting dalam perspektif Islam. Yaitu seseorang yang membantu kita untuk lebih dekat kepada Allah, membuat kita menjadi lebih patuh dan taat kepada perintah dan ajaran-Nya, serta memberi keuntungan positif untuk umat.

Kriteria Teman Baik Menurut Islam

Jika demikian, apa sih sebenarnya kriteria teman yang baik dalam Islam? Pikirkan sejenak tentang teman-teman kalian, dan biarkan saya bertanya, “Bagaimana kalian memilih teman? Apa peran teman-teman dalam kehidupan kalian? Apakah teman hanya semata-mata untuk pergi bareng dan bersenang-senang?” Jika kalian mengamini semua pertanyaan di atas, maka ada baiknya berpikir ulang dan mencoba untuk memahami makna serta peranan teman yang shaleh. Teman bukan sekadar seseorang yang bisa diajak untuk menikmati waktu bersama. Peranan teman ternyata lebih dalam dari sekedar berbagai sudut pandang yang dangkal.

Seorang teman bisa membantu kalian melakoni amalan-amalan hebat yang memicu pahala dan surga. Di sisi lain, teman juga bisa menghalangi dirimu dari perjalanan menuju surga. Pengaruh teman terhadap diri kalian sungguh luar biasa, bahkan melebihi anggota keluarga. Inilah mengapa begitu penting untuk berhati-hati memilih teman.

…Teman bukan sekadar seseorang yang bisa diajak untuk menikmati waktu bersama. Seorang teman bisa membantu kalian melakoni amalan-amalan hebat yang memicu pahala dan surga…

Hal-hal penting yang harus kalian pikirkan ketika memilih teman adalah kedekatan mereka kepada Allah. Kalian bisa tahu kedekatan tersebut bukan hanya dari penampilan mereka. Tapi juga melalui tingkah laki, tabiat, akidah, dan tindak-tanduk mereka.

Teman yang sepanjang waktunya memikirkan bagaimana caranya menggapai pahala, bisa dekat dan menggapai keridhaan Allah melalui tindakannya adalah teman yang bisa kalian percaya. Jalinlah persahabatan dengannya.

Jika kalian tidak shalat, tidak pernah berpuasa, gemar bergosip, atau kalian tidak memiliki peran aktif dalam masyarakat, maka sudah seharusnya kalian memiliki teman-teman yang mampu memperbaiki perilaku dan sikap kalian menjadi lebih baik. Alangkah buruknya jika kita memiliki teman yang justru memperburuk moral, sikap, dan bahkan akidah kita.

Karena teman-teman berperangai buruk bisa mendorong kalian untuk melakukan tindakan-tindakan yang buruk juga. Berbohong, merokok, kecanduan narkoba, dan bahkan berzina adalah hal-hal yang merupakan hasil buruk dari teman-teman yang berperangai buruk. Seorang teman mengatakan, “Teman-teman memiliki dampak nyata terhadap diri seseorang, dan bahkan mereka bisa mempengaruhi keseluruhan hidup seseorang.”

Sementara itu, teman-teman yang shaleh bisa memberikan pengaruh positif bagi kehidupan kalian; membuat hidup menjadi lebih baik dunia dan akhirat. Sebagai contoh, teman yang memiliki aktivitas dalam derma bisa mendorong kalian untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatannya. Hal demikian lebih baik daripada kalian menghabiskan waktu melakukan hal-hal tidak bermanfaat atau sesuatu yang haram bersama teman-teman berkelakuan keji. Teman-teman yang baik bisa menemani kalian untuk mengunjungi panti asuhan, menghadiri halaqah pembelajaran Al-Qur’an, atau menghabiskan waktu untuk hal-hal bermanfaat lainnya. Bahkan, selain bermanfaat, semua itu juga bernilai pahala di sisi Allah.

…Sementara itu, teman-teman yang shaleh bisa memberikan pengaruh positif bagi kehidupan kalian; membuat hidup menjadi lebih baik dunia dan akhirat…

Bahkan dalam kondisi penuh keceriaan dan kegembiraan pun, segala sesuatunya bisa berbeda jika kita lakukan bersama teman yang baik. Dia senantiasa mengingatkan kalian untuk selalu memperbarui niat karena Allah di mana pun dan kapan pun. Selain itu, teman yang baik senantiasa mendorong kalian untuk menjaga harga diri atau menjaga ibadah-ibadah yang dianjurkan, sehingga keindahan Islam selalu terukir di hati kalian.

Hal ini terjadi dengan Iman Asy-Syarif, seorang muslimah berkewarganegaraan Mesir berusia 25 tahun. Iman melakukan perjalanan ke Denmark tak lama setelah kasus kartun Nabi Muhammad merebak, untuk mengubah citra buruk Islam di sana. Apa yang mendorong Iman untuk melakukan sesuatu demi memperbaiki citra muslim?

Iman menerangkan, “Salah seorang teman saya mendorong saya untuk melakukan sesuatu demi umat. Sejak itu mulailah saya membaca banyak bacaan tentang Islam. Lalu saya ambil bagian untuk mengenalkan Islam kepada orang-orang non-muslim. Sejujurnya, saya tidak bisa mengenyampingkan peran teman yang telah membantu saya untuk melakukan hal-hal positif.”

Jelas, dengan teman-teman yang baik dan shaleh, kalian bisa melakukan hal-hal positif yang menguntungkan Islam dan kaum muslim. Kalian pun menjalani kehidupan yang bebas dari egoisme, kesedihan, kebencian, dan kegelisahan yang terjadi jika berteman dengan teman-teman yang buruk.

Kalian mungkin tidak merasakan dampak langsung dari teman-teman terhadap diri kalian. Tapi jika kalian mau berpikir secara lebih dalam, kalian akan mendapatkan bahwa teman memiliki pengaruh yang dahsyat, kendati kalian mengklaim bahwa kalian memiliki karakter dan kepribadian kuat. Inilah mengapa kalian mesti memilih teman secara bijak, karena teman bisa mengubah hidup kalian secara keseluruhan, baik positif maupun negatif.

Karena alasan demikian, Nabi Muhammad pernah bersabda, “Seseorang itu tergantung agama temannya. Maka hendaknya salah seorang dari kalian melihat siapa temannya." (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi)

Dari Anas, dia menuturkan, Rasulullah SAW bersabda, ”Dan perumpamaan teman duduk yang baik itu bagaikan penjual minyak wangi kasturi, jika minyak kasturi itu tidak mengenaimu, maka kamu akan mencium bau wanginya. Dan perumpamaan teman duduk yang jelek adalah seperti tukang pandai besi, jika kamu tidak kena arangnya (percikannya), maka kamu akan terkena asapnya.” (HR. Abu Dawud).

…Carilah sedikitnya seorang teman baik dan shaleh yang bisa menjadi batu loncatan bagi kalian menuju surga…

Menjadi sangat penting bagi kita untuk memahami hadits di atas yang mengindikasikan dampak teman terhadap kehidupan seseorang, dan pentingnya memilih teman-teman yang baik. Maka pikirkanlah baik-baik. Dan bahkan jika semua teman kalian adalah teman yang berkelakukan buruk, maka Allah akan mengampuni, jika kalian mau bertobat. Carilah sedikitnya seorang teman baik dan shaleh yang bisa menjadi batu loncatan bagi kalian menuju surga.
[ganna pryadha/voa-islam.com]


Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Top WordPress Themes