Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan

10 Desember 2011

mengejar kebahagiaan (?)

Suatu ketika, terdapat seorang pemuda di tepian telaga. Ia tampak termenung. Tatapan matanya kosong, menatap hamparan air di depannya. Seluruh penjuru mata angin telah di lewatinya, namun tak ada satupun titik yang membuatnya puas. Kekosongan makin senyap, sampai ada suara yang menyapanya. Ada orang lain disana.

"Sedang apa kau disini anak muda?" tanya seseorang. Rupanya ada seorang kakek tua. "Apa yang kau risaukan..?" Anak muda itu menoleh ke samping, "Aku lelah Pak Tua. Telah berkilo-kilo jarak yang kutempuh untuk mencari kebahagiaan, namun tak juga kutemukan rasa itu dalam diriku. Aku telah berlari melewati gunung dan lembah, tapi tak ada tanda kebahagiaan yang hadir dalam diriku. Kemana kah aku harus mencarinya? Bilakah kutemukan rasa itu?"

Kakek Tua duduk semakin dekat, mendengarkan dengan penuh perhatian. Di pandangnya wajah lelah di depannya. Lalu, ia mulai bicara, "di depan sana, ada sebuah taman. Jika kamu ingin jawaban dari pertanyaanmu, tangkaplah seekor kupu-kupu buatku. Mereka berpandangan. "Ya...tangkaplah seekor kupu-kupu buatku dengan tanganmu" sang Kakek mengulang kalimatnya lagi.

Perlahan pemuda itu bangkit. Langkahnya menuju satu arah, taman. Tak berapa lama, dijumpainya taman itu. Taman yang yang semarak dengan pohon dan bunga-bunga yang bermekaran. Tak heran, banyak kupu-kupu yang berterbangan disana. Sang kakek, melihat dari kejauhan, memperhatikan tingkah yang diperbuat pemuda yang sedang gelisah itu.

Anak muda itu mulai bergerak. Dengan mengendap-endap, ditujunya sebuah sasaran. Perlahan. Namun, Hap! sasaran itu luput. Di kejarnya kupu-kupu itu ke arah lain. Ia tak mau kehilangan buruan. Namun lagi-lagi. Hap!. Ia gagal. Ia mulai berlari tak beraturan. Diterjangnya sana-sini. Ditabraknya rerumputan dan tanaman untuk mendapatkan kupu-kupu itu. Diterobosnya semak dan perdu di sana. Gerakannya semakin liar.

Adegan itu terus berlangsung, namun belum ada satu kupu-kupu yang dapat ditangkap. Sang pemuda mulai kelelahan. Nafasnya memburu, dadanya bergerak naik-turun dengan cepat. Sampai akhirnya ada teriakan, "Hentikan dulu anak muda. Istirahatlah." Tampak sang Kakek yang berjalan perlahan. Tapi lihatlah, ada sekumpulan kupu-kupu yang berterbangan di sisi kanan-kiri kakek itu. Mereka terbang berkeliling, sesekali hinggap di tubuh tua itu.

"Begitukah caramu mengejar kebahagiaan? Berlari dan menerjang? Menabrak-nabrak tak tentu arah, menerobos tanpa peduli apa yang kau rusak?" Sang Kakek menatap pemuda itu. "Nak, mencari kebahagiaan itu seperti menangkap kupu-kupu. Semakin kau terjang, semakin ia akan menghindar. Semakin kau buru, semakin pula ia pergi dari dirimu."

"Namun, tangkaplah kupu-kupu itu dalam hatimu. Karena kebahagiaan itu bukan benda yang dapat kau genggam, atau sesuatu yang dapat kau simpan. Carilah kebahagiaan itu dalam hatimu. Telusuri rasa itu dalam kalbumu. Ia tak akan lari kemana-mana. Bahkan, tanpa kau sadari kebahagiaan itu sering datang sendiri."

Kakek Tua itu mengangkat tangannya. Hap, tiba-tiba, tampak seekor kupu-kupu yang hinggap di ujung jari. Terlihat kepak-kepak sayap kupu-kupu itu, memancarkan keindahan ciptaan Tuhan. Pesonanya begitu mengagumkan, kelopak sayap yang mengalun perlahan, layaknya kebahagiaan yang hadir dalam hati. Warnanya begitu indah, seindah kebahagiaan bagi mereka yang mampu menyelaminya.

penulis : other 


 

Mencari kebahagiaan adalah layaknya menangkap kupu-kupu. Sulit, bagi mereka yang terlalu bernafsu, namun mudah, bagi mereka yang tahu apa yang mereka cari. Kita mungkin dapat mencarinya dengan menerjang sana-sini, menabrak sana-sini, atau menerobos sana-sini untuk mendapatkannya. Kita dapat saja mengejarnya dengan berlari kencang, ke seluruh penjuru arah. Kita pun dapat meraihnya dengan bernafsu, seperti menangkap buruan yang dapat kita santap setelah mendapatkannya.

Namun kita belajar. Kita belajar bahwa kebahagiaan tak bisa di dapat dengan cara-cara seperti itu. Kita belajar bahwa bahagia bukanlah sesuatu yang dapat di genggam atau benda yang dapat disimpan. Bahagia adalah udara, dan kebahagiaan adalah aroma dari udara itu. Kita belajar bahwa bahagia itu memang ada dalam hati. Semakin kita mengejarnya, semakin pula kebahagiaan itu akan pergi dari kita. Semakin kita berusaha meraihnya, semakin pula kebahagiaan itu akan menjauh.

Sahabatku, cobalah temukan kebahagiaan itu dalam hatimu. Biarkanlah rasa itu menetap, dan abadi dalam hati kita. Temukanlah kebahagiaan itu dalam setiap langkah yang kita lakukan. Dalam bekerja, dalam belajar, dalam menjalani hidup kita. Dalam sedih, dalam gembira, dalam sunyi dan dalam riuh. Temukanlah bahagia itu, dengan perlahan, dalam tenang, dalam ketulusan hati kita.

Percayalah kbahagiaan itu ada dimana-mana. Rasa itu ada di sekitar kita. Bahkan mungkin, bahagia itu "hinggap" di hati kita, namun kita tak pernah memperdulikannya. Mungkin juga, bahagia itu berterbangan di sekeliling kita, namun kita terlalu acuh untuk menikmatinya.



2 Desember 2011

jangan jadi gelas

Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya
belakangan ini selalu tampak murung.

"Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di
dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu?" sang Guru bertanya.

"Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk
tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya," jawab sang
murid muda.

Sang Guru terkekeh. "Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam.
Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu."
Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan
gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana
yang diminta.

"Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu," kata
Sang Guru. "Setelah itu coba kau minum airnya sedikit."
Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air
asin.

"Bagaimana rasanya?" tanya Sang Guru.

"Asin, dan perutku jadi mual," jawab si murid dengan wajah yang masih
meringis.

Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis
keasinan.

"Sekarang kau ikut aku." Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat
tempat mereka. "Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau."
Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa
bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa
asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah
di hadapan mursyid, begitu pikirnya.

"Sekarang, coba kau minum air danau itu," kata Sang Guru sambil
mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir
danau.

Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan
membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin
dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya
kepadanya, "Bagaimana rasanya?"

"Segar, segar sekali," kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan
punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber
air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah.
Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang
tersisa di mulutnya.

"Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?"

"Tidak sama sekali," kata si murid sambil mengambil air dan
meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya,
membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.

"Nak," kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. "Segala masalah
dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih.
Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus
kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai
untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang
dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun
demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang
bebas dari penderitaan dan masalah."

Si murid terdiam, mendengarkan.

"Tapi Nak, rasa `asin' dari penderitaan yang dialami itu sangat
tergantung dari besarnya 'qalbu'(hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya
tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu
jadi sebesar danau."

penulis : other

19 November 2011

belajar dan berdo'a

Saat mengikuti rapat komite sekolah SMA dan kepala sekolah bercerita tentang percakapan seorang siswa dan ibunya.

Ibu: Nak, belajarlah yang rajin agar jadi anak yang pandai sebagai bekal hidupmu kelak. Sekarang kau kelas 1, belajarlah agar naik kelas 2.
Anak: Iya bu, saya berjanji. Nanti kalau saya naik kelas belikan aku hp ya?

Ibu: Belajarlah yang rajin nak. Dan berdoalah, apa yang kau minta pasti kau dapatkan nanti.
Si anak berdoa dan belajar dan ibunyapun mendoakan.

Si anak naik kelas 2.
Anak: Bu aku naik kelas. Mana hp untukku?
Ibu: Nak, doamu dan doaku terkabul, kau naik kelas. Soal hp, kau tau keadaan kita sekarang. Berdoa dan belajarlah terus yang rajin agar naik kelas 3.
Anak: Aku mengerti bu. Nanti kalau saya naik kelas, belikan aku komputer ya?
Ibu: Belajarlah yang rajin nak. Dan berdoalah, apa yang kau minta pasti kau dapatkan nanti.
Si anak berdoa dan belajar dan ibunyapun mendoakan.

Si anak naik kelas 3.
Ibu: Nak, saya bangga kau naik kelas, peringkat satu lagi.
Anak: Kapan kita beli komputernya?
Ibu: Nak, ...
Anak: Bagaimana sih! Ibu kan selalu bilang: "Berdoalah, apa yang kau minta pasti kau dapatkan nanti."
Ibu: ... (meneteskan air mata)
Anak: Pokoknya aku mau hp dan komputer, titik!
Ibu: (Lembut tapi tegas) Nak, kau sudah sma, kau sudah besar dan sekarang kelas 3. Kau tau kan, masa depanmu ada di tanganmu. Kau yang menentukan masa depanmu. Ibu dan bapakmu berdoa untukmu dan melakukan semua untuk membantumu. Sampai saat ini SPP dan kebutuhanmu yang lain bisa kami penuhi. Setahun lagi ... (air mata menetes).
Anak: Aku mengerti ... (dipeluknya ibunya)
Ibu: Gunakanlah dan manfaatkan komputer di lab sekolah sebaik mungkin. Bila memang perlu kau boleh ke warnet untuk belajar. Nak, ...
Anak: Aku mengerti ... (dipeluknya ibunya lebih erat)
Ibu: Belajarlah yang rajin nak. Dan berdoalah, apa yang kau minta pasti kau dapatkan nanti.

Si anak berdoa dan belajar dan ibunyapun mendoakan. Si anak lulus sma.
Sang ibu terbayang akan permintaan anaknya tapi, karena keadaan, dia tak pernah berani menjanjikan untuk membelikannya. Kemudian terlintas di pikirannya, sejak melahirkan anaknya dan kemudian membesarkannya sampai lulus sma seberapa besar jumlah biayanya? Nilai hp dan komputer pasti tak cukup untuk menggantinya. Tapi, seorang ibu tak hendak membuat hitung-hitungan dengan anak.

Beberapa hari kemudian si anak memberitahu bahwa dia diterima di perguruan tinggi dengan beasiswa. Sang Ibu meneteskan air mata haru penuh syukur dan bangga.
Dua minggu kemudian pada acara pelepasan di sekolah sang ibu naik ke atas panggung mendampingi sang anak menerima hadiah sebuah laptop dan sebuah iPod. Selama di sekolah sang ibu hanya tersenyum kepada sang anak (selebihnya dia simpan untuk dicurahkan di rumah). Di hanya bilang "Nak, berterimakasihlah pada guru-gurumu."

18 November 2011

pensil



Seorang anak bertanya kepada neneknya yang sedang menulis sebuah surat.

"Nenek lagi menulis tentang pengalaman kita ya? atau tentang aku?"

Mendengar pertanyaan si cucu, sang nenek berhenti menulis dan berkata kepada cucunya,
"Sebenarnya nenek sedang menulis tentang kamu, tapi ada yang lebih penting dari isi tulisan ini yaitu pensil yang nenek pakai".

"Nenek harap kamu bakal seperti pensil ini ketika kamu besar nanti" ujar si nenek lagi.

Mendengar jawab ini, si cucu kemudian melihat pensilnya dan bertanya kembali kepada si nenek ketika dia melihat tidak ada yang istimewa dari pensil yang nenek pakai.

"Tapi nek sepertinya pensil itu sama saja dengan pensil yang lainnya." Ujar si cucu

Si nenek kemudian menjawab, "Itu semua tergantung bagaimana kamu melihat pensil ini."
"Pensil ini mempunyai 5 kualitas yang bisa membuatmu selalu tenang dalam menjalani hidup, kalau kamu selalu memegang prinsip-prinsip itu di dalam hidup ini."

Si nenek kemudian menjelaskan 5 kualitas dari sebuah pensil.

"Kualitas pertama, pensil mengingatkan kamu kalo kamu bisa berbuat hal yang hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, kamu jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkah kamu dalam hidup ini. Kita menyebutnya tangan Tuhan, Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya" .

"Kualitas kedua, dalam proses menulis, nenek kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil nenek. Rautan ini pasti akan membuat si pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan kamu, dalam hidup ini kamu harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik".

"Kualitas ketiga, pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar".

"Kualitas keempat, bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalam sebuah pensil. Oleh sebab itu, selalulah hati-hati dan menyadari hal-hal di dalam dirimu".

"Kualitas kelima, adalah sebuah pensil selalu meninggalkan tanda/goresan. Seperti juga kamu, kamu harus sadar kalau apapun yang kamu perbuat dalam hidup ini akan meninggalkan kesan. Oleh karena itu selalulah hati-hati dan sadar terhadap semua tindakan".



penulis : other

siapa kaya siapa miskin



Suatu ketika seorang ayah dari keluarga kaya raya, bermaksud memberi pelajaran bagaimana kehidupan orang miskin pada anaknya. Merekapun menginap beberapa hari di rumah keluarga petani yang miskin di sebuah dusun di tepi hutan.


Dalam perjalanan pulang sang ayah bertanya pada anaknya. “Bagaimana perjalanan kita?” Jawab sang Anak, “Oh sangat menarik ayah.”
“Kamu melihat bagaimana orang miskin hidup?” Sang ayah bertanya.
“Ya ayah”, sahut sang anak.
“Jadi, apa yang dapat kamu pelajari dari perjalanan kita ini?” Tanya sang ayah.

Sang anak menjawab, “Yang saya pelajari kita memiliki satu anjing untuk menjaga rumah kita, mereka punya empat anjing untuk berburu. Kita punya kolam renang kecil di taman, mereka punya sungai yang tiada batas… Kita punya lampu untuk menerangi taman kita, mereka punya bintang yang bersinar di malam hari. Kita memiliki lahan yang kecil untuk hidup, mereka hidup bersama alam. Kita punya pembantu untuk melayani kita, tapi mereka hidup untuk melayani oran lain. Kita punya pagar yang tinggi untuk melindungi kita, mereka punya banyak teman yang saling melindungi”.
Sang ayah tercengang diam mendengar jawaban anaknya. Lalu sang anak melanjutkan,
“Terima kasih ayah, karena ayah telah menunjukkan betapa miskinnya kita”.

 Penulis : other

 
Bukankah ini suatu sudut pandang yang menakjubkan?
Bersyukurlah dengan apa yang telah kita miliki, dan jangan pernah risau dengan apa yang tidak kita miliki. Bersyukurlah walau sekecil apapun rezeki yang kita peroleh…
kaya dan miskin itu hanya sebatas seberapa luas pemikiran dan sudut pandang kita.
semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa dapat memandang segala sesuatu secara bijak


16 November 2011

menyalahkan takdir (?)


Pada suatu hari Pak Haji dan tukang cukur berjalan melalui daerah kumuh disebuah kota.

Tukang cukur berkata kepada Pak Haji, "Lihat, inilah sebabnya saya tidak dapat percaya pada Tuhan yang katanya Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Jika Tuhan itu baik sebagaimana yang engkau katakan, Ia tidak akan membiarkan semua kemiskinan, penyakit, dan kekumuhan ini. Ia tidak akan membiarkan orang-orang ini terperangkap ketagihan obat dan semua kebiasaan yang merusak watak. Tidak, saya tidak dapat percaya ada Tuhan yang mengijinkan semua ini terjadi."

Pak Haji itu diam saja sampai ketika mereka bertemu dengan seseorang yang benar-benar jorok dan bau.

Rambutnya panjang dan janggutnya seperti tak tersentuh pisau cukur cukup lama.

Pak Haji berkata, "Anda tidak bisa menjadi seorang tukang cukur yang baik kalau anda membiarkan orang seperti dia hidup tanpa rambut dan janggut yang tak terurus."

Merasa tersinggung, tukang cukur itu menjawab:"Mengapa salahkan aku atas keadaan orang itu? Aku tidak mengubahnya. Ia tidak pernah datang ke tokoku. Saya bisa saja merapikannya dan membuat ia tampak rupawan!"

Sambil melihat dengan tenang kepada tukang cukur itu, Pak Haji itu berkata:"Karena itu, jangan menyalahkan Tuhan karena membiarkan orang hidup dalam kejahatan, karena Ia terus menerus mengundang mereka untuk datang dan 'dicukur' akan tetapi mereka selalu mengabaikannya. Alasan mengapa orang-orang itu menjadi budak kebiasaan jahat adalah karena mereka menolak ajakan petunjuk Tuhan, untuk menyelamatkan mereka."

(author : unknown)

~~~

daro ilustrasi kisah diatas,masih banyak banyak dari diri kita lebih suka menyalahkan takdir, daripada menyalahkan diri sendiri, kita merasa Tuhan tidak adil atas pemberian-Nya. Kita merasa telah diperlakukan tidak adil karena kemiskinan kita, masalah-masalah yang menimpa kita.

sesungguhnya Allah SWT selalu memberikan petunjuk dan ajakan kepada kita, akan tetapi diri kita ini mengabaikan bahkan menjauh dari ajakan-Nya. Bahkan kita hanya memandang sebelah mata petunjuk-petunjuk-Nya, di bandingkan petunjuk-petunjuk manusia yang belum pasti kebenarannya.

jadi, seberapa sering diri kita ini diingatkan dengan berbagai hal?

13 November 2011

sepenggal hikmah husnudzon





Suatu saat seorang raja menggunakan pisau untuk memotong buah-buahan. Tiba-tiba, sang raja terkaget dan kesakitan. Ada apa? Jari tangannya berkurang 1 akibat terpotong pisau! Sang raja kemudian menceritakan hal tersebut kepada perdana menteri. Dengan tenang ...perdana menteri tersebut menjawab, “Tenang saja rajaku, inilah yang terbaik bagi baginda”. Mendengar jawaban tersebut, sang raja marah dan berkata “Pengawal, masukkan ia ke penjara!”

Walaupun dipenjara, sang perdana menteri masih dapat mengatakan, “Aku yakin, ini adalah yang terbaik bagiku” . Beberapa hari kemudian, sang raja berjalan sendirian ke hutan untuk merenung. Biasanya sang raja selalu mengajak perdana menteri apabila ingin pergi ke hutan untuk merenung.
Tiba-tiba ia masuk ke dalam lubang jebakan kaum kanibal! Dengan penuh semangat, kaum kanibal tersebut menyiapakan ritual dan bersiap-siap untuk memakan sang raja. Sang raja ketakutan.

Akan tetapi, tiba-tiba pemimpin kaum kanibal tersebut membuat pernyataan mengejutkan! :eek” Ia berkata “Walaupun kami kaum kanibal, selera kami bukanlah manusia cacat seperti Anda”. “Lihatlah jari tangan Anda!”. Akhirnya sang raja dibebaskan. Dalam perjalanan pulang menuju istana, sang raja teringat dengan perkataan perdana menterinya.

Ia mulai berpikir bahwa apa yang diucapkan oleh perdana menteri ternyata benar. Dalam hati ia berkata, “Seandainya dahulu jariku tidak terpotong, mungkin saat ini aku sedang dimakan kaum kanibal tersebut. Ternyata memang benar, kejadian tersebut adalah yang terbaik bagiku.

Sesampainya di istana, sang raja langsung membebaskan perdana menterinya, kemudian menceritakan apa yang dialaminya. Dengan spontan, perdana menteri tersebut mengucapkan, “Seandainya aku tidak dipenjara, mungkin aku yang akan menjadi makanan kaum kanibal tersebut karena mereka tidak mau memakan baginda raja.” Subhanalloh.

Melihat kisah tadi, ternyata Allah selalu punya rencana yang terbaik bagi kita. Tak jarang kita mengeluh dengan apa sedang kita miliki padahal itulah yang terbaik bagi kita.

Kerena sesuatu yang kita cintai atau sesuatu yang kita anggap baik belum tentu baik bagi kita menurut Allah. Begitu pula sebaliknya sesuatu yang kita anggap buruk bagi diri kita belum tentu buruk menurut ilmu Allah. “Boleh jadi kamu mencintai sesuatu padahal sesuatu itu amat buruk bagimu, dan boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu amat baik bagimu. Kamu tidak mengetahui sedangkan Allah Maha Mengetahui.” (QS. 2:216)

So, untuk teman-teman yang sedang merasa kesulitan dalam hidup kita, yuk kita berhusnudzon kepada Alloh SWT. Insya Alloh inilah yang terbaik bagi kita. Tidak mudah memang, termasuk bagi ana, tapi kita harus selalu berusaha. Semoga. keep Spirit Ukhuwah..

Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda, yang artinya: “Jangan sekali-kali salah seorang di antara kalian mati kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah.” (HR: Muslim)

12 November 2011

yang indah itu butuh kesabaran


Di suatu sore, seorang anak datang kepada ayahnya yg sedang baca koran… “Ayah, ayah” kata sang anak…

“Ada apa?” tanya sang ayah…..

“aku capek, sangat capek … aku capek karena aku belajar mati matian untuk mendapat nilai bagus sedang temanku bisa dapat nilai bagus dengan menyontek…aku mau menyontek saja! aku capek. sangat capek…

aku capek karena aku harus terus membantu ibu membersihkan rumah, sedang temanku punya pembantu, aku ingin kita punya pembantu saja! … aku capel, sangat capek …

aku cape karena aku harus menabung, sedang temanku bisa terus jajan tanpa harus menabung…aku ingin jajan terus! …

aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga lisanku untuk tidak menyakiti, sedang temanku enak saja berbicara sampai aku sakit hati…

aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga sikapku untuk menghormati teman teman ku, sedang teman temanku seenaknya saja bersikap kepada ku…

aku capek ayah, aku capek menahan diri…aku ingin seperti mereka…mereka terlihat senang, aku ingin bersikap seperti mereka ayah ! ..” sang anak mulai menangis…

Kemudian sang ayah hanya tersenyum dan mengelus kepala anaknya sambil berkata ” anakku ayo ikut ayah, ayah akan menunjukkan sesuatu kepadamu”, lalu sang ayah menarik tangan sang anak kemudian mereka menyusuri sebuah jalan yang sangat jelek, banyak duri, serangga, lumpur, dan ilalang… lalu sang anak pun mulai mengeluh ” ayah mau kemana kita?? aku tidak suka jalan ini, lihat sepatuku jadi kotor, kakiku luka karena tertusuk duri. badanku dikelilingi oleh serangga, berjalanpun susah krn ada banyak ilalang… aku benci jalan ini ayah” … sang ayah hanya diam.

Sampai akhirnya mereka sampai pada sebuah telaga yang sangat indah, airnya sangat segar, ada banyak kupu kupu, bunga bunga yang cantik, dan pepohonan yang rindang…

“Wwaaaah… tempat apa ini ayah? aku suka! aku suka tempat ini!” sang ayah hanya diam dan kemudian duduk di bawah pohon yang rindang beralaskan rerumputan hijau.

“Kemarilah anakku, ayo duduk di samping ayah” ujar sang ayah, lalu sang anak pun ikut duduk di samping ayahnya.

” Anakku, tahukah kau mengapa di sini begitu sepi? padahal tempat ini begitu indah…?”

” Tidak tahu ayah, memangnya kenapa?”

” Itu karena orang orang tidak mau menyusuri jalan yang jelek tadi, padahal mereka tau ada telaga di sini, tetapi mereka tidak bisa bersabar dalam menyusuri jalan itu”

” Ooh… berarti kita orang yang sabar ya yah? alhamdulillah”

” Nah, akhirnya kau mengerti”

” Mengerti apa? aku tidak mengerti ayah”

” Anakku, butuh kesabaran dalam belajar, butuh kesabaran dalam bersikap baik, butuh kesabaran dalam kujujuran, butuh kesabaran dalam setiap kebaikan agar kita mendapat kemenangan, seperti jalan yang tadi… bukankah kau harus sabar saat ada duri melukai kakimu, kau harus sabar saat lumpur mengotori sepatumu, kau harus sabar melawati ilalang dan kau pun harus sabar saat dikelilingi serangga… dan akhirnya semuanya terbayar kan? ada telaga yang sangatt indah.. seandainya kau tidak sabar, apa yang kau dapat? kau tidak akan mendapat apa apa anakku, oleh karena itu bersabarlah anakku”

” Tapi ayah, tidak mudah untuk bersabar ”



” Aku tau, oleh karena itu ada ayah yang menggenggam tanganmu agar kau tetap kuat … begitu pula hidup, ada ayah dan ibu yang akan terus berada di sampingmu agar saat kau jatuh, kami bisa mengangkatmu, tapi… ingatlah anakku… ayah dan ibu tidak selamanya bisa mengangkatmu saat kau jatuh, suatu saat nanti, kau harus bisa berdiri sendiri… maka jangan pernah kau gantungkan hidupmu pada orang lain, jadilah dirimu sendiri… seorang pemuda yang kuat, yang tetap tabah dan karena ia tahu Allah SWT senantiasa bersamanya… maka kau akan dapati dirimu tetap berjalan menyusuri kehidupan saat yang lain memutuskan untuk berhenti dan pulang… maka kau tau akhirnya kan?”

” Ya ayah, aku tau.. aku akan dapat surga yang indah yang lebih indah dari telaga ini … sekarang aku mengerti … terima kasih ayah , aku akan tegar saat yang lain terlempar ”

Sang ayah hanya tersenyum sambil menatap wajah anak kesayangannya.

28 September 2011

Mangkuk, Madu dan Sehelai rambut




Rasulullah SAW, dengan sahabat-sahabatnya Abakar r.a., Umar r.a., Utsman r.a., dan 'Ali r.a., bertamu ke rumah Ali r.a. Di rumah Ali r.a. istrinya Sayidatina Fathimah r.ha. putri Rasulullah SAW menghidangkan untuk mereka madu yang diletakkan di dalam sebuah mangkuk yang cantik, dan ketika semangkuk madu itu dihidangkan sehelai rambut terikut di dalam mangkuk itu. Baginda Rasulullah SAW kemudian meminta kesemua sahabatnya untuk membuat suatu perbandingan terhadap ketiga benda tersebut (Mangkuk yang cantik, madu, dan sehelai rambut).
Abubakar r.a. berkata, "iman itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang beriman itu lebih manis dari madu, dan mempertahankan iman itu lebih susah dari meniti sehelai rambut".
Umar r.a. berkata, "kerajaan itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, seorang raja itu lebih manis dari madu, dan memerintah dengan adil itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut".
Utsman r.a. berkata, "ilmu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang menuntut ilmu itu lebih manis dari madu, dan ber'amal dengan ilmu yang dimiliki itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut".
'Ali r.a. berkata, "tamu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, menjamu tamu itu lebih manis dari madu, dan membuat tamu senang sampai kembali pulang ke rumanya adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut".
Fatimah r.ha.berkata, "seorang wanita itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, wanita yang ber-purdah itu lebih manis dari madu, dan mendapatkan seorang wanita yangtak pernah dilihat orang lain kecuali muhrimnya lebih sulit dari meniti sehelai rambut".
Rasulullah SAW berkata, "seorang yang mendapat taufiq untuk ber'amal adalah lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, ber'amal dengan 'amal yang baik itu lebih manis dari madu, dan berbuat 'amal dengan ikhlas adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut".
Malaikat Jibril AS berkata, "menegakkan pilar-pilar agama itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, menyerahkan diri; harta; dan waktu untuk usaha agama lebih manis dari madu, dan mempertahankan usaha agama sampai akhir hayat lebih sulit dari meniti sehelai rambut".
Allah SWT berfirman, " Sorga-Ku itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik itu, nikmat sorga-Ku itu lebih manis dari madu, dan jalan menuju sorga-Ku adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut".





lima perkara




Abu Laits as-Samarqandi adalah seorang ahli fiqh yang masyur. Suatu ketika dia pernah berkata, ayahku menceritakan bahwa antara Nabi-nabi yang bukan Rasul ada menerima wahyu dalam bentuk mimpi dan ada yang hanya mendengar suara.
Maka salah seorang Nabi yang menerima wahyu melalui mimpi itu, pada suatu malam bermimpi diperintahkan yang berbunyi, "Esok engkau dikehendaki keluar dari rumah pada waktu pagi menghala ke barat. Engkau dikehendaki berbuat, pertama; apa yang negkau lihat (hadapi) maka makanlah, kedua; engkau sembunyikan, ketiga; engkau terimalah, keempat; jangan engkau putuskan harapan, yang kelima; larilah engkau daripadanya."

Pada keesokan harinya, Nabi itu pun keluar dari rumahnya menuju ke barat dan kebetulan yang pertama dihadapinya ialah sebuah bukit besar berwarna hitam. Nabi itu kebingungan sambil berkata, "Aku diperintahkan memakan pertama aku hadapi, tapi sungguh aneh sesuatu yang mustahil yang tidak dapat dilaksanakan."
Maka Nabi itu terus berjalan menuju ke bukit itu dengan hasrat untuk memakannya. Ketika dia menghampirinya, tiba-tiba bukit itu mengecilkan diri sehingga menjadi sebesar buku roti. Maka Nabi itu pun mengambilnya lalu disuapkan ke mulutnya. Bila ditelan terasa sungguh manis bagaikan madu. Dia pun mengucapkan syukur 'Alhamdulillah'.

Kemudian Nabi itu meneruskan perjalanannya lalu bertemu pula dengan sebuah mangkuk emas. Dia teringat akan arahan mimpinya supaya disembunyikan, lantas Nabi itu pun menggali sebuah lubang lalu ditanamkan mangkuk emas itu, kemudian ditinggalkannya. Tiba-tiba mangkuk emas itu terkeluar semula. Nabi itu pun menanamkannya semula sehingga tiga kali berturut-turut.
Maka berkatalah Nabi itu, "Aku telah melaksanakan perintahmu." Lalu dia pun meneruskan perjalanannya tanpa disedari oleh Nabi itu yang mangkuk emas itu terkeluar semula dari tempat ia ditanam.

Ketika dia sedang berjalan, tiba-tiba dia ternampak seekor burung elang sedang mengejar seekor burung kecil. Kemudian terdengarlah burung kecil itu berkata, "Wahai Nabi Allah, tolonglah aku."
Mendengar rayuan burung itu, hatinya merasa simpati lalu dia pun mengambil burung itu dan dimasukkan ke dalam bajunya. Melihatkan keadaan itu, lantas burung elang itu pun datang menghampiri Nabi itu sambil berkata, "Wahai Nabi Allah, aku sangat lapar dan aku mengejar burung itu sejak pagi tadi. Oleh itu janganlah engkau patahkan harapanku dari rezekiku."

Nabi itu teringatkan pesanan arahan dalam mimpinya yang keempat, yaitu tidak boleh putuskan harapan. Dia menjadi kebingungan untuk menyelesaikan perkara itu. Akhirnya dia membuat keputusan untuk mengambil pedangnya lalu memotong sedikit daging pehanya dan diberikan kepada elang itu. Setelah mendapat daging itu, elang pun terbang dan burung kecil tadi dilepaskan dari dalam bajunya.
Selepas kejadian itu, Nabi meneruskan perjalannya. Tidak lama kemudian dia bertemu dengan satu bangkai yang amat busuk baunya, maka dia pun bergegas lari dari situ kerana tidak tahan menghidu bau yang menyakitkan hidungnya. Setelah menemui kelima-lima peristiwa itu, maka kembalilah Nabi ke rumahnya. Pada malam itu, Nabi pun berdoa. Dalam doanya dia berkata, "Ya Allah, aku telah pun melaksanakan perintah-Mu sebagaimana yang diberitahu di dalam mimpiku, maka jelaskanlah kepadaku erti semuanya ini."

Dalam mimpi beliau telah diberitahu oleh Allah S.W.T. bahwa, "Yang pertama engkau makan itu ialah marah. Pada mulanya nampak besar seperti bukittetapi pada akhirnya jika bersabar dan dapat mengawal serta menahannya, maka marah itu pun akan menjadi lebih manis daripada madu.
Kedua; semua amal kebaikan (budi), walaupun disembunyikan, maka ia tetap akan nampak jua. Ketiga; jika sudah menerima amanah seseorang, maka janganlah kamu khianat kepadanya. Keempat; jika orang meminta kepadamu, maka usahakanlah untuknya demi membantu kepadanya meskipun kau sendiri berhajat. Kelima; bau yang busuk itu ialah ghibah (menceritakan hal seseorang). Maka larilah dari orang-orang yang sedang duduk berkumpul membuat ghibah."

Saudara-saudaraku, kelima-lima kisah ini hendaklah kita semaikan dalam diri kita, sebab kelima-lima perkara ini sentiasa saja berlaku dalam kehidupan kita sehari-hari. Perkara yang tidak dapat kita elakkan setiap hari ialah mengata hal orang, memang menjadi tabiat seseorang itu suka mengata hal orang lain. Haruslah kita ingat bahwa kata-mengata hal seseorang itu akan menghilangkan pahala kita, sebab ada sebuah hadis mengatakan di akhirat nanti ada seorang hamba Allah akan terkejut melihat pahala yang tidak pernah dikerjakannya. Lalu dia bertanya, "Wahai Allah, sesungguhnya pahala yang Kamu berikan ini tidak pernah aku kerjakan di dunia dulu."

Maka berkata Allah S.W.T., "Ini adalah pahala orang yang mengata-ngata tentang dirimu." Dengan ini haruslah kita sedar bahwa walaupun apa yang kita kata itu memang benar, tetapi kata-mengata itu akan merugikan diri kita sendiri. Oleh kerana itu, hendaklah kita jangan mengata hal orang walaupun ia benar.


27 September 2011

bidadari kecil



Awal Agustus 1998
Petikan gitar Slash yang membahana dari kamar sebelah membangunkanku dari tidur panjang. Aku menggeliat malas dan mencoba membuka mataku yang terasa sangat berat. Pengaruh ekstasi yang kuminum tadi malam bersama Ardy sudah mulai mengendap. Basi'an, begitu istilah yang digunakan anak-anak muda terhadap pengaruh pemakaian ekstasi. Tenggorokanku terasa kering dan panas. Aku mencoba menggapai gelas yang ada di samping ranjang. Kosong. Tak berisi setetes airpun.

Aku menoleh. Ardy masih tergolek di sampingku. Tadi malam memang ia mengkonsumsi pil-pil setan itu jauh lebih banyak dariku. Tak heran jika sekarang ia masih tertidur nyenyak. Perbuatan yang kami lakukan semalam sangat liar.

Aku berusaha bangkit untuk mengambil sebotol Aqua dari dalam kulkas. Dengan sisa tenaga yang ada, aku berhasil menuangkan air putih ke dalam gelas dan meminumnya. Setelah itu aku berjalan ke kamar mandi, ingin mengguyur tubuhku yang terasa panas dan berkeringat.

Untung saja tempat kost yang baru kutempati dua bulan terakhir ini tidak seketat tempat kostku yang dulu. Rata-rata penghuni rumah mewah bertingkat tiga ini memang orang-orang mencintai pergaulan bebas dan pengkonsumsi narkoba seperti diriku. Ditambah lagi pemilik kost tinggal di Bandung dan jarang mengunjungi tempat ini. Mereka hanya mempercayakan keamanan kost kepada seorang satpam dan lima orang pembantu rumah tangga yang mata duitan. Keenam orang hanya ingin uang kost dibayar tepat waktu, dengan sejumlah tip untuk membungkam mulut mereka. Mereka tidak peduli para penghuninya mabuk-mabukan, pesta narkoba atau tinggal bersama. Yang penting bagi mereka adalah uang karena mereka sendiri bukan orang yang suci. Tersiar kabar bahwa pembantu-pembantu rumah tangga itu menjalani pekerjaan lain sebagai pramuria di warung bilyard.

"Vi! Evi! Lagi ngapain kamu di dalam? Mandi ya?" Terdengar suara Ardy mencariku.

"Iya, Dy! Panas, nih!" Seruku dari dalam kamar mandi.

"Jangan lama-lama yah! Aku mau pipis nih!" Teriaknya.

Aku melengos. Memang setelah pengaruh obat-obatan tidak terasa lagi, aku sering merasa malas dan muak melihat Ardy. Entah mengapa. Aku hanya menyukainya jika dalam keadaan fly. Mungkin karena itulah cinta di antara pemuja obat-obatan terlarang dan pergaulan bebas sepertiku tak pernah langgeng.

Ardy sedang duduk mencangkung dengan celana pendek dan kaus oblong kumalnya ketika aku keluar dari kamar mandi. Asap rokok berbentuk bulatan-bulatan putih seperti donat menghempus dari hidungnya. Aku tersenyum terpaksa.

"Vi, basi'an kamu? Langsung mandi gitu!" ujarnya dengan gayanya yang kurang ajar.

Aku melengos. Aku memang tidak menganggap Ardy istimewa. Ia sama bejatnya seperti Roy, Glen, Harry, Rudy, bahkan Aryo yang telah merenggut keperawananku dan pergi begitu saja meninggalkanku. Mereka semua adalah pemuda-pemuda berandalan yang bisanya hanya berhubungan intim dan mengkonsumsi narkoba. tak lebih.

"Sok tau banget kamu! Kamu sendiri juga kegerahan, kan ?!" Tukasku tak suka. "Oh ya, kamu mau ke kampus nga siang ini? Daftar ulang , lho! Aku mau ke kampus, ah!"

Sebenarnya aku tak berniat ke kampus. Tapi karena ingin mengusir Ardy yang sudah dua hari menginap di sini. Aku tepaksa melakukan hal itu. Aku tau, Ardy sangat menghindari kampus. Mungkin semester ini pun ia sudah di-DO.

"Masih mikirin kampus juga , Vi?" Ardy tersenyum sinis. "Aku males, ah! Lagian buat apa belajar susah-susah? Toh kita masih bisa beli inex sama PT, kok! Nanti aja deh, kalo aku udah insyaf baru ke kampus. Aku mau ke rumah Tony aja!"

Ardy bangkit dan mengganti celana pendeknya dengan jeans bolong-bolong kesayangannya. Aku pun sibuk berdandan dan merapihkan berkas-berkas pendaftaran ulang, berpura-pura ingin pergi ke kampus. Padahal sehabis ini aku akan pergi ke kost Firna. Kemarin sahabatku itu mengajak shoping di Plaza Senayan. Daripada suntuk di kamar terus, lebih baik mencari udara segar. Siapa tau ada cowok keren yang bisa kugaet! Aku sudah bosan dengan Ardy yang sudah dua bulan menjadi pengawal setiaku. Meskipun tampangnya lumayan keren, badannya sama sekali tidak bagus. Kurus kerempeng seperti tiang listrik. Maklumlah pecandu narkoba! Mana bisa ia memiliki tubuh berotot seperti Ade Rai.

"Eh, Vi...."kata Ardy di depan pintu.

"Apa?!"

"Eh, jangan galak-galang dong! gini lho.... eng....bagi duit dong, Vi. Biasa..." Ardy memamerkan nyengir kudanya. "Buat beli cimeng."

"Ah, buat beli cimeng aja make minta sama aku!" Tukasku merogoh dompet dan melemparkan dua lembar lima puluh ribuan.

"Udah sana cabut! Eneg melihat tampangmu di sini!"

Ardy tertawa senang dan melambaikan tangannya.

Pertengahan Oktober 1998
Aku memegang perutku sambil tertatih-tatih menuju kamar mandi. Perutku terasa sangat mual. Di kelas tadi, pandanganku tiba-tiba kabur dan aku merasa ingin pingsan. Setelah pamit pada Pak Suryadi, dosen killer pengajar manajemen pemasaran, aku cepat-cepat ke kamar mandi. Di kamar mandi, kumuntahkan semua isi perutku. Kepalaku berdenyut-denyut seperti dihantam oleh tongkat yang sangat besar. Perutku terasa keras dan nafasku sesak. Aku mencoba bangkit. Ini pasti pengaruh putaw yang kukonsumsi bersama Firna dan teman-teman beberapa hari ini. Aku memang belum terbiasa menggunakan barang yang satu itu. Mungkin seperti inilah reaksinya, kataku dalam hati. Mual dan pusing.

Cepat-cepat kukeluarkan lipstik dan bedak dari tas mungilku. Aku harus berdandan untuk menutupi pucat pasi wajahku. Ketika hendak mengembalikan pearalatan kecantikan itu ke tempat semulanya, pandanganku bersirobok dengan bungkusan panty shield. Aku terpana. Otakku mulai berpikir cepat. Terakhir kali aku mendapat haid kira-kira satu setengah bulan yang lalu. Ah, sudah lama sekali? Apa.....aku sedang mengandung?!

Dengan panik, aku segera melarikan mobilku menuju apotik terdekat. Tanganku bergetar memegang test kehamilan pribadi bersampul biru. Aku segera pulang ke kost yang hanya sepuluh menit dari kampus, dan mencoba alat yang mengerikan itu. Selama menunggu hasilnya, aku mondar-mandir tak karuan di dalam kamar. Jantungku berdegup kencang sekali. Oh Tuhan, aku tidak ingin hamil! Jeritku dalam hati.

Tapi ternyata semuanya sudah terlambat. Tertera dua garis merah di benda putih yang pipih dan panjang itu. Aku berteriak tak percaya. Kubanting kuat-kuat alat pengecek kehamilan dan gelas aqua bekas kugunakan untuk menampung urine. Tidak! Oh.....aku tidak mau mengandung! Aku tidak mau punya anak!

Aku menghenyakkan tubuhku ke atas ranjang. Berteriak-teriak seperti orang gila. Ku jambak-jambak rambutku yang panjang sampai kulit kepalaku seperti mau lepas. kutinju dinding kamar berkali-kali. Yang ada hanya kesakitan. Tapi tidak melenyapkan jabang bayi di dalam rahimku.

Mengapa aku sedemikian bodoh? Aku lupa memakai alat kontrasepsi ketika berhubungan dengan si brengsek Ardy! Padahal biasanya aku tak pernah lupa. Mungkin karena pengaruh ekstasi yang memabukkan, membuatku lupa akan kebiasaanku untuk mencegah kehamilan. Tapi nasi udah menjadi bubur. Aku memang mengandung. Dan cara terbaik yang harus kulakukan sekarang adalah menggugurkan kandunganku? Aku tidak ingin membesarkan anak di luar nikah. Tidak mungkin aku menuntut pertanggungjawaban Ardy. Pasti ia akan mengelak dan menuduh bayi ini hasil hubunganku dengan orang lain. Lagipula aku tidak siap menikah dengan pemuda bajingan itu dan membesarkan anakku dengannya. Menjadi orang tua tunggal pun aku tak siap.

Apa yang akan terjadi jika aku nekad mempertahankan janin ini?! Papa yang kejam dan bengis akan mengusirku. Beliau tidak memukulku dan menamparku seperti dulu kalau aku pulang sekolah lewat waktu atau aku kedapatan bergaul akrab dengan pria. Papa yang sok ningrat dan berdarah dingin itu pasti akan mencincang tubuhku! Dan beliau pasti tidak akan mengakuiku sebagai anaknya lagi. Padahal aku sangat membutuhkan harta dan warisannya. Aku adalah anak sulungnya dan aku harus mewarisi kekayaannya yang berlimpah ruah.

Cepat-cepat kuraih handphone dari dalam tas dan menghubungi Firna. Ia pasti tau cara mengeyahkan janin ini karena beberapa bulan lalu ia pun pernah melakukan yang sama.

Akhir oktober 1998
Berkat pertolongan Firna, aku berhasil menemui seorang dokter ahli kandungan yang bernaung di balik klinik megahnya di pusat Jakarta untuk mengadakan aborsi terhadap bayi-bayi malang dari wanita-wanita muda yang tidak siap memiliki anak sepertiku. Ketika sedang di-USG, aku sempat melihat bulatan kecil berwaran putih di layar monitor. Itu adalah janinku!

"Tuh, lihat.....sudah agak besar kan, anakmu, Evi?” Ujar dokter itu. "Sudah siapkah kamu menggugurkan janin yang lucu ini? Kelak dia akan menjadi anak yang sehat. Apa kamu tidak menyesal nantinya?"

"Nggak, Dok! saya ngak akan nyesal, kok!" Tukasku sekeras batu. Kulirik Firna yang cepat-cepat mengalihkan pandangan dariku. Aku tidak akan mempertahankan bayi ini. Aku tidak sanggup melihatnya menghancurkan masa depanku!

"Ok, deh....kalo gitu! Siap-siap aja di ruangan sebelah, ya! Pembayarannya tolong di urus di kasir.” Kata Dokter itu tersenyum. Aku melengos. Sok moralitas kau Dokter! Padahal dalam hati kau bersorak kegirangan membayangkan dua juta rupiah lagi masuk ke kantongmu!

Peristiwa itu terjadi begitu cepat. Tidak seperti yang pernah kubaca di koran-koran, proses pengguguran kandungan ini tidaklah mengerikan. Mungkin karena aku di bius sehingga aku tidak merasakan apa-apa. Sehabis itu sudah boleh pulang dan aku merasa sangat lega karena akhirnya si pengganggu itu tidak ada lagi dalam rahimku.

Pertengahan Januari 1999
“Evi! Evi! kenapa kamu, Nak? Pa! Pa! Aduh, bagaimana ini? Evi! Evi kenapa, Pa?!”

Sayup-sayup aku mendengar suara Mama. Aku berusaha membuka mataku lebar-lebar. Tapi tidak dapat memperjelas penglihatanku. Hanya bayang-bayang sosok Mama dan Papa mendekatiku dan menguncang-guncang tubuhku. Tak lama kemudian, aku segera di larikan ke Rumah Sakit terdekat. Tubuhku terasa ringan seperti kapas. Efek beberapa butir valium yang kutenggak bersama sekaleng bir memang membuatku seperti hilang ingatan. Sejak beberapa hari aku mulai bosan dan akhirnya mencoba bereksperimen dengan mencampurkan minuman keras dan obat-obat terlarang itu. Aku tidak tahu akibatnya akan seperti ini. Kedatangan Papa dan Mama yang mendadak ke Jakarta pun tak kuhiraukan lagi. Aku seperti ingin mati saja.

Awal Februari 1999
Aku mengikuti Papa dan Mama ke sebuah kamar putih yang bersih di ujung gang. Anganku masih melayang-layang dan tubuhku terasa sakit karena aku belum benar-benar bebas dari narkoba. Mungkin karena itulah Papa dan Mama membawaku ke tempat terpencil ini. Sebuah pesantren yang memiliki divisi rehabilitasi ketergantungan narkoba.

Setelah bercakap-cakap sebentar dengan seorang wanita yang berjilbab putih, Papa dan Mama meninggalkanku. Aku tak peduli pada mereka. Yang kuinginkan saat ini adalah putaw, cimeng, dan valium!

"Oh....oh, tolong! Tolong! Tolong! Mana PT? Mana PT? Aku butuh PT! Ohhh!" Aku menjerit-jerit kesakitan. Sakaw, itulah keadaanku saat ini. Tubuhku terasa sakit dan luluh lantak. Tulangku ngilu. Perutku mual dan lendir tak henti-hentinya mengalir dari hidungku. Aku berteriak-teriak sampai wanita berjilbab tadi dan empat orang lainya datang. Mereka menyeretku ke kamar mandi. Sambil melafazkan dzikir, mereka menyiram sekujur tubuhku. Aku mengerang. Pagi-pagi buta seperti ini aku diguyur air dingin!

"Tolong! Aku mau pergi dari sini! Lepaskan aku! Tolong! Tolong! Tolong!" Aku memberontak berusaha melepaskan diri dari cengkeraman wanita-wanita itu. Tapi mereka seperti pantang menyerah. Setelah selesai memandikanku, mereka mengganti bajuku dan dengan tetap berdzikir mereka menidurkanku. Aku masih berteriak-teriak kesakitan. Akhirnya sepanjang malam aku menjerit-jerit tanpa ada yang menolong.

Pertengahan Oktober 1999
Aku sudah tidak menjerit-jerit lagi. Tubuhku sudah sehat menurut pemeriksaan dan laporan dari pembimbingku, aku sudah terlepas dari narkoba. Khasiat jamu ramuan dari pesantren, mandi dini hari diiringi dzikir dan doa, berendam di kolam yang tertutup dan air rebusan jahe yang diteteskan ke kedua bola mataku ternyata cukup ampuh menyembuhkan sakaw-ku. Kini aku sudah dapat mengikuti rutinitas pesantren dan bergaul dengan teman-temanku yang lain. Aku pun sudah mengenakan jilbab! Ya, aku sudah berjilbab seperti Ustadzah Maryam, Ustadzah Ayu, Wina, Shanti, Elvira, Saras, Dewi, dan muslimah-muslimah lainnya di pesantren ini. Dan aku memakainya bukan karena peraturan di sini mengharuskan wanita berjilbab, tapi karena hidayah dari Allah.

Meskipun bagi orang luar kegiatan pesantren ini membosankan, tapi bagiku di sinilah surgaku. Aktivias sholat berjamaah, tadarus Qur'an, mengikuti kajian, berdzikir, salat malam, kerja bakti membersihkan pondok dan sekitarnya, membuatku lupa akan kesenanganku dulu. Aku bahkan telah meminta izin kepada orang tuaku dan para pembimbingku untuk tinggal di sini dalam waktu yang cukup lama agar bisa mengabdikan diri. Aku ingin menolong orang lain yang pernah mengalami nasib yang sama seperti diriku dulu. Aku ingin membantu menyembuhkan dan mengembalikan kepercayaan diri mereka. Alhamdulillah niat baiku ini disambut dengan gembira oleh para pembimbing dan pengurus pondok pesantren. Bahkan kabarnya Ustadz Fikry yang menjadi ketua yayasan sekaligus anak pendiri pondok dan kepala pembimbing menyetujui dan mendukung niatku. Ia pun mengusulkan agar aku menjadi guru dan pembimbing di panti asuhan "Nurul Iman" milik yayasan yang letaknya tak jauh dari pondok ini.

Pertengahan Mei 2000
Sore hari yang cerah usai memberikan pelajaran bahasa inggris kepada anak-anak panti asuhan. Ustadzah Salma memanggilku. Pengurus "Nurul Iman" itu mengatakan bahwa besok ada seorang ikhwan yang ingin berta'auf denganku dan kalau memang kami berjodoh, ia akan segera melamarku untuk menjadi istrinya.

Subhanallah! Betapa terkejutnya aku mendengar kabar itu. Rasanya tak mungkin ikhwan yang sedemikian alim dan istiqamah seperti yang diceritakan Ustadzah Salma mau meminangku. Rasanya sudah lama aku mengubur impian menjadi istri dan ibu yang baik mengingat masa laluku yang sangat suram.

"Allah selalu memaafkan umat-nya yang pernah melakukan kesalahan, Evi."Ucap Ustadzah Salma dengan lembut ketika aku menyampaikan kekhawatiranku. "Jika seseorang telah bertobat. Lagipula kita ini manusia biasa, bukan Tuhan atau Malaikat. Setiap orang pasti pernah berbuat kesalahan, entah besar atau kecil. Allah akan memaafkan dan memberikan karunia kepada kita yang sudah kembali Fitrah-Nya. Jangan pesimis, Evi. Jangan pernah terbelenggu oleh masa lalu. Ambilah hikmah dari masa lalumu, dan buang yang buruk!"

"Tapi.....apakah ikhwan itu telah mengetahui latar belakang hidup saya, Ustadzah? tanyaku lagi. "Apakah... ia benar-benar mau menerima saya yang sudah pernah berzina dan mengkonsumsi obat-obat terlarang?"

"Tidak ada yang tidak ia ketahui tentang kau, Evi," sahut Ustadzah Salma sambil mengusap jilbabku. "Dan ia siap menerimamu apa adanya. Percayalah, ia sangat jujur dan baik hati."

Aku mengangguk haru. Hatiku mulai tenang. Dan ketika acara ta'aruf tiba, aku tidak lagi diliputi keraguan seperti sebelumnya. Aku mulai mantap dan berdoa kalau memang Allah telah mengizinkanku untuk menggenapkan setengah dienku, aku telah siap. Tak disangka ikhwan yang datang melamarku adalah Ustadz Fikry! Setelah melaksanakan salat istikharah beberapa malam, kami pun memutuskan untuk segera menikah.

Akhir Mei 2001
Pagi ini, aku sedang melayani suamiku sarapan pagi. Seperti biasa, tepat pukul delapan pagi setelah sarapan dan salat dhuha, Bang Fikri kembali dengan rutinitas di pondok pesantren. Sedangkan aku bersiap-siap untuk mengajar panti. Entah mengapa, ketika aku sedang mengoleskan selai coklat ke atas setangkup roti tawar di atas piring Bang Fikri, kram yang sangat dahsyat terasa di daerah pinggul dan di bawah perutku. Aku berteriak kesakitan sampai roti ditanganku terlempar.

"Evi....Evi! Ada apa, Vi! Evi!?" Bang Fikri meraih tubuhku yang terjatuh di lantai. Ia menepuk-nepuk pipiku tapi aku tak mampu bergerak lagi. Rasa sakit yang tak tertahankan membuatku tidak mampu berbuat apa-apa.

Dokter yayasan yang datang memeriksaku menyarankan agar aku segera di bawa ke rumah sakit Ibu dan Anak terkenal di Jakarta. Menurutnya, penyakitku sangat parah dan berkaitan dengan organ reproduksiku. Memang sejak pengguguran kandungan beberapa tahun lalu, jadwal haidku tidak teratur. Pernah aku lima bulan tidak mendapat haid. Tapi sekali menstruasi, darah kental bercampur onggokan-onggokan daging seperti hati ayam keluar dari vaginaku. Kupikir hal itu biasa aja dan aku enggan memeriksakan kandunganku ke dokter karena takut suamiku akan mengetahui rahasia pengguguran kandungan yang kupendam selama ini. Aku memang belum pernah menceritakan hal itu kepada siapa pun kecuali Firna.

Setelah dirawat selama seminggu di rumah sakit dan melakukan beberapa tes mulai mulai USG vagina, observasi, tes kimia darah, hormon, dan urine; dokter spesialis kendungan menyatakan aku mengidap kanker leher rahim atau kanker cerviks! Astagfirullah, betapa beratnya ujian yang harus ku lewati ini, Ya Allah! inilah akibat kesalahan terbesar dalam hidupku yang pernah kubuat!

Aku tahu, Bang Fikri sangat terpukul dengan kejadian yang menimpaku ini aku juga sempat menangis berhari-hari tapi tetap saja tidak ada yang dapat kulakukan kecuali memasrahkan diri kepada Allah. Dan meskipun sangat berat, kami berdua berusaha tetap tabah dan tawakal, tidak mau menyalahkan Allah atas keputusan yang ia buat. Apapun yang terjadi, kami telah siap dan inilah yang terbaik bagi kami. Akhirnya kami mengikuti saran dokter untuk mengangkat rahimku agar kanker tidak menjalar ke bagian tubuhku yang lain. Aku tahu, aku tidak akan memiliki kesempatan untuk punya anak lagi, setelah janin yang dengan......kubunuh dulu.

Pertengahan Agustus 2001
Aku terbangun dan mendapati diriku sedang berada di ruangan putih yang bersih dan sangat terang. Tubuhku kurus kering. Mengenakan gamis dan jilbab putih. Ranjang yang kutiduri seperti berada di atas asap yang mirip segumpalan awan di langit. Aku ingin berteriak menanyakan keberadaanku. Tapi tenggorokanku tercekat, tak sanggup mengeluarkan suara apapun.

Assalamualaikum, Ibu.” Seorang gadis kecil yang cantik dan berpita putih menghampiriku. Ia meraih tanganku dan menciumnya. Aku tersentak.

Waalaikumsalam, Nak. Maaf…kau siapa? Aku tidak mengenalmu,” kataku heran. Gadis kecil itu tersenyum.

“Ibu…Ibu memang belum pernah mengenalku. Aku bidadari kecilmu. Bu. Bidadari yang kau lenyapkan tiga tahun yang lau,” sahut si gadis. Matanya yang bulat dan besar menatapku.

“Bidadari kecilku? Maksudmu… kau janin yang kugugurkan itu?!”

“Ya benar. Sekarang Ibu bisa melihat dan menyentuhku. Aku masih ada, Bu. Aku belum mati. Aku masih hidup…. di surga.”

“Apakah ini surga? Apakah aku sudah mati?”

“Tidak, Ibu belum mati. Akupun belum mati meskipun aku kau bunuh lewat tangan dokter yang keji itu. Aku masih ada di sini dan mengawasimu dari atas.”

Aku terpana. Wajah bidadari kecil itu begitu dekat. Aku menyentuh pipinya yang halus kemerahan. Ia tersenyum senang. Senyum kanak-kanaknya yang tulus dan memancarkan keluguan itu menyentuh hatiku. Ya, Allah, betapa teganya aku menghilangkan nyawanya untuk kepentinganku sendiri! Padahal ia tidak bersalah! Ia adalah anak yang suci dan bersih, tidak seperti pasangan biologis berlumur dosa yang membentuknya seperti ini. Sekarang aku sudah tidak bisa mengandung dan memiliki keturunan lagi. Ia adalah keturunanku pertama dan terakhir!

“Oh… bidadari kecilku!” Isakku dan meraih tubuhnya ke pelukanku. “Maafkan Ibu, Nak! Dulu Ibu khilaf, Ibu banyak dosa! Betapa teganya dulu Ibu memusnahkanmu! Maafkan Ibu, Nak! Sekarang semuanya sudah Ibu tebus.”

“Tidak, Ibu… bukan aku yang bisa memaafkan kesalahan ibu. Allah tidak ingin melihat Ibu menderita lagi. Allah akan memberikan kebahagiaan abadi buat Ibu,” ucap bidadari kecilku. Ia mengusap pipiku lembut, kemudian melangkah meninggalkanku.

Aku berteriak memanggilnya tapi ia tetap berjalan ke balik cahaya. Bersamaan dengan menghilangnya bidadari kecil itu, aku mendengar samar-samar suara ramai di sekelilingku.

Subhanallah! Evi membuka matanya! Papa…Mama… Avi sudah sadar!”

Aku mengerjapkan mataku. Dengan pandangan yang masih agak kabur, aku melihat Bang Fikry duduk di samping ranjang sambil menggenggam tanganku. Tasbih terjuntai di tangan satunya lagi. Papa, Mama, adik-adikku, ustadzah Salma, ustadzah Maryam, mengelilingi tempat tidurku. Aku tak dapat bergerak karena tubuhku terasa sakit dengan selang-selang yang seperti membelengguku.

“Evie, kau sudah tiga hari koma. Alhamdulillah sudah sadar,” bisik bang Fikry. Sadar? Aku masih di dunia! Tidak, aku harus pergi! Tugasku di sini sudah selesai! Aku tidak boleh berada di sini!

Kutatap Bang Fikry lekat-lekat. Ia tersenyum manis. Aku mencoba tersenyum kepadanya dan kepada orang-orang di sekelilingku. Lalu dengan tenaga yang ada, kuucapkan Laailaahaillallah berkali-kali. Bang Fikry seperti tahu maksudku. Dengan penuh ketabahan, ia menuntunku melafalkan kalimatullah. Yang lain hanya menatap kami sambil terisak. Tidak sampai sepuluh menit, terdengar suara tersedak dari tenggorokanku. Kupersembahkan senyumku yang terakhir kepada orang-orang yang setia menungguiku. Tubuhku terasa ringan ketika dijemput Malaikat Izrail. Aku telah siap menjalani kehidupan yang abadi di sisi Allah dan bertemu dengan bidadari kecilku lagi. (nur)

Penulis: Nabila F. Az-Zahra, Annida 10/XI

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Top WordPress Themes