25 Maret 2011

Adab berbicara


 Hendaknya setiap muslim menjaga lidahnya sebagaimana hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad rahimahullah sesungguhnya Rasulullah rbersabda:

إِِنَّ الرَّجلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ يَضْحَكُ بِهَا جلَسَاءُهُ يَهْوِي بِهَا مِنْ أَبْعَدَ مِنَ الثُّرَيَّا
"Ada kalanya seseorang berbicara dengan suatu kata di mana orang disekelilingnya tertawa dengan ucapannya, namun dengan kata tersebut dia terpelanting ke tempat yang lebih jauh dari bintang tsuroyya". [1]
·         Berbicaralah dengan hal yang baik atau diam sebagaimana hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiallahu anhu beliau berkata: Rasulullah r bersabda:
  مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْلِيَصْمُت
"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir maka berbicaralah dengan baik atau diam".[2]
·         Berkata baik merupakan salah satu pintu dari pintu-pintu shodakoh, hal ini sebagaimana tersirat dalam hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah r bersabda:

كُلُّ سُلاَمَى مِنَ النَّاسِ صَدَقَةٌ,كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيْهِ الشَّمْسُ:يَعْدِلُ بَيْنَ اثْنَيْنِ صََدَقَةٌ,وَيُعِيْنُ الرَّجُلَ عَلىَ دَابَّتِهِ فَيَحْمِلُ عَلَيْهَا أَوْيَرْفَعُ مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ وَاْلكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ ...
"Setiap persendian tubuh manusia (membutuhkan) sodaqoh setiap hari tatkala terbit matahari, berbuat adil di antara dua orang adalah sodaqoh, menolong orang menunggangi hewan tunggangannya juga mengangkat barang bawaannya adalah sodaqoh dan berbicara dengan kalimat yang baik adalah sodaqoh".[3]
Bahkan orang yang berkata baik akan dijauhkan dari api neraka sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Adi' bin Hatim radhiallahu anhu bahwa Nabi r bercerita tentang api neraka kemudian beliau memalingkan wajahnya sambil minta perlindungan darinya, lalu bercerita tentang api neraka kemudian beliau memalingkan wajahnya sambil minta perlindungan darinya, kemudian bersabda: 
 ِاتَّقُوْا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ
"Jagalah diri kalian dari api neraka walau dengan sebelah kurma barang siapa yang tidak mendapatkannya maka dengan ucapan yang baik". [4]
·         Mendorong diri sedikit berbicara, sebab banyaknya berbicara akan menyebabkan seseorang terjerumus  kedalam perbuatan dosa, hal ini sebagaimana sabda Rasulullah r:
وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَّي وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي مِجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الثَّرْثَارُوْنَ
"Dan sesungguhnya orang yang paling aku dibenci dari kalian dan paling jauh dariku di hari kiamat adalah orang yang banyak bicara".[5]
·         Menjauhi perbuatan ghibah, sebagaimana firman Allah I:    وَلاَيَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا  "Janganlah sebagian  kalian menggunjing terhadap sebagian yang lain".[6]


Point Penting. Ghibah diperbolehkan pada enam tempat:
1.   Diperbolehkan bagi orang yang terzalimi menceritakan kezaliman orang lain kepada pemerintah dan hakim.
2.   Bertujuan untuk merubah kemungkaran.
3.   Meminta fatwa (Seperti halnya ia berkata Fulan menzalimiku dengan ini dan itu).
4.   Untuk mengingatkan dan menasehati kaum muslimin dari keburukan. (dengan maksud menasehati).
5.   Orang yang digibahi adalah seorang yang benar-benar menampakkan kefasikan dan kebid'ahannya.[7]
6.   Untuk memberikan keterangan kepada orang-orang (yang bertanya), bilamana orang tersebut terkenal dengan sebutan seperti bermata kabur, pincang dan buta, dan diharamkan memberikan keterangan itu dengan tujuan menghinakannya.[8]

Ada beberapa hal yang mesti diperhatikan dalam ghibah yang diperbolehkan, diantaranya adalah:
1.   Niat ikhlas hanya untuk mencari keridho’an Allah semata.
2.   Berusaha untuk tidak menyebutkan nama orang tertentu semaksimal mungkin.
3.   Mengingatkan seseorang dengan apa yang diperbolehkan baginya.
4.   Berkeyakinan bahwa tidak akan ada kerusakan lebih besar yang diakibatkan oleh point-point penting yang disebutkan di atas.

Sebab-sebab yang mendorong seseorang berbuat ghibah:
1.   Menyalurkan kemarahan, hendaknya ia ingat akan sabda Nabi r:
مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنَفِّذَهُ دَعَاهُ اللهُ عَزَّوَجَلَّ عَلَى رُؤُوْسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ مِنَ اْلحُوْرِ مَاشَاءَ
"Barang siapa yang menahan kemarahan, padahal dia mampu untuk melakukannya maka Allah I akan menyerunya atas di hadapan seluruh manusia pada hari kiamat, untuk memilih bidadari yang dikehendakinya".[9]
2.   Menyesuaikan diri dalam pergaulan dan sengaja mengada-adakan sikap baik kepada teman. Hendaklah dia mengingat akan sabda Nabi r:           
    وَمَنِ اْلتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللهِ وَكََلَهُ اللهُ إِلَى النَّاسِ
"Barangsiapa mencari kerelaan manusia dengan (berbuat sesuatu yang) dibenci oleh Allah maka Allah pasti menyerahkan urusannya kepada manusia".[10]
3.   Hendak meninggikan derajat dirinya dengan cara mengejek orang lain. Obat bagi orang yang memiliki sifat tersebut adalah mengetahui bahwasannya apa-apa yang dimiliki oleh Allah adalah lebih baik dan lebih kekal.
4.   Bersenda gurau dan bercanda. Rasulullah rbersabda:
وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبَ لِيَضْحَكَ بِهِ اْلقَوْمُ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ
"Celaka bagi orang yang berkata kemudian berbohong supaya orang-orang tertawa, maka celaka baginya, maka celaka baginya".[11]
5.   Iri dengki, Rasulullah r bersabda:
                  لاَ يَجْتَمِعَانِ فِي قَلْبِ عَبْدٍ:اَْلإِيْمَانُ وَاْلحَسَدُ
  "Tidaklah berkumpul dalam hati seorang hamba: iman dan sifat dengki.[12]
6.   Menisbatkan sesuatu pada orang lain dengan maksud membersihkan diri darinya.
7.   Banyak waktu yang kosong.
8.   Untuk mendekatkan diri kepada pemimpin dan penguasa.

Beberapa perkara yang tidak dikategorikan sebagai ghibah padahal ia adalah bukan ghibah
1.   Seseorang terkadang berbuat ghibah tetapi apabila dibantah dia berkata: (Saya siap mempertegas ucapan tersebut di hadapannya).
2.   Perkataan orang di depan halayak ramai tatkala menceritakan seseorang (Kita berlindung pada Allah dari kurangnya rasa malu) atau (Fulan demi Allah melewati batas).
3.   Perkataan seseorang, orang itu terkena musibah dengan ini (lalu menceritakan kejelekannya).
4.   Menganggap enteng membicarakan kejelekan orang yang berbuat maksiat.
·         Menjauhi perbuatan mengadu domba sebagaimana sabda Rasulullah r:
لاَ يَدْخُلُ اْلجَنَّةَ قَتَّاتٌ
"Tidak akan masuk surga orang yang mengadu domba".[13]

Point Penting. Enam perkara yang harus diperhatikan oleh orang yang menerima namimah:
1.   Tidak membenarkannya.
2.   Melarang dan menasehati (pelaku namimah) agar dia menjauhi perbuatan tersebut
3.   Membencinya karena Allah sebab hal tersebut dibenci oleh Allah I.
4.   Tidak berprasangka buruk pada saudaranya yang tidak ada di hadapannya.
5.   Tidak memata-matai dan mencari kesalahan orang lain.
6.   Dia tidak merelakan bagi dirinya apa-apa yang telah dilarangnya (dari perbuatan namimah) tentang pribadinya, maka janganlah menceritakan perbuatan namimah orang tentang dirinya ia berkata: Fulan mengisahkan padaku seperti itu kemudian jadilah ia seorang pengadu domba.
·         Dilarang menceritakan setiap pembicaraan yang didengar, sebagaimana sabda Rasulullah r:
كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَاسَمِعَ
"Cukuplah bagi seseorang berbuat dosa dengan menceritakan setiap apa yang didengarnya".[14]
·         Jauhilah berbuat bohong, sebagaimana firman Allah I:
 يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آَمَنُوْا اتْقُوْا اللهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّدِقِيْن
"Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kamu kepada Allah dan jadilah kalian bersama-sama orang yang benar .[15]
Selain itu, terdapat hadits riwayat Samurah bin Jundab radhiallahu anhu tentang mimpi Nabi r beliau bersabda:
"… Akan tetapi malam itu aku bermimpi melihat dua orang laki-laki datang kepadaku kemudian mereka berdua memegang kedua tanganku dan membawaku keluar pergi ke tanah suci, tatkala itu ada seseorang yang sedang duduk dan yang lain berdiri, sementara ditangannya terdapat besi yang ujungnya bengkok. Sebagian teman-teman kami meriwayatkan dari Musa hadits riwayat musa dengan lafaz "bahwa dia memasukkan besi tersebut ke bagian mulutnya sehingga menembus kepalanya yang bagian belakang, kemudian melakukannya kembali ke bagian mulut yang lain seperti apa yang dilakukan sebelumnya, akhirnya bagian mulutnya menjadi menyatu, namun tatkala mulutnya kembali seperti sediakala, dia kembali mengulangi perbuatannya. Aku berkata: "Apa ini?" Mereka berdua menjawab pergilah …) Diakhir hadits ini Rasulullah r berkata pada kedua orang tersebut:" Pada malam ini kalian telah membawaku berkeliling, maka beritahukanlah kepadaku tentang apa yang telah aku lihat. Mereka berdua berkata: Adapun orang yang engkau lihat merobek mulutnya, maka orang itu adalah pembohong, ia mengada-adakan kebohongan kemudian menanggung akibatnya hingga ke ujung dunia sampai hari kiamat….)[16]

Diperbolehkan berbohong dalam tiga tempat:
1.   Mendamaikan manusia.
2.   Berbohong dalam peperangan.
3.   Perkataan suami terhadap Istrinya dan perkataan istri terhadap suaminya.
Adapun dalil diperbolehkannya hal tersebut adalah sabda Rasulullah r:
لاَ أَعُدُّهُ كَاذِبًا الرَّجُلُ يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ, يَقُوْلُ اْلقَوْلَ وَلاَ يُرِيْدُ بِهِ إِلاَّ اْلإْصْلاَحَ, وَالرَّجُلُ يَقُوْلُ فِي اْلحَرْبِ, وَالرَّجُلُ يُحَدِّثُ اْمرَأَتَهُ وَالْمَرْأَةُ تُحَدِّثُ زَوْجَهَا 
"Aku tidak menganggap berbohong seorang yang (berbohong) untuk mendamaikan perselisihan antara manusia, yaitu dengan mengatakan satu perkataan yang bohong di mana dia tidak menghendaki dengannya kecuali perdamaian, juga seorang laki-laki yang berkata bohong dalam peperangan dan seorang suami yang berkata bohong kepada Istrinya, dan seorang istri yang berbohong kepada suaminya ".[17]
·       Dilarang berkata kotor dan berbuat kotor, serta setiap perkataan yang keji. Sebagaimana disebutkan di dalam hadits:
         لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاحِشًا وَلاَ مُتَفحِّشًا
"Nabi shallallahu alaihi wa sallam bukanlah seorang yang berkata kotor dan berbuat kotor".[18]
·         Keutamaan orang yang meninggalkan berdebat walaupun dia benar. sebagaimana sabda Rasulullah r:
أَنَا زَعِيْمٌ بِبَيْتٍ فَي رَبََضِ اْلجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا
"Aku adalah pemimpin pada sebuah tempat di surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan walaupun dia benar". [19]
Al Miro' adalah jidal/berdebat.
·         Dilarang membuat orang tertawa dengan cara berbohong. sebagaimana sabda Rasulullah r:
وَيْلٌ ِللَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبَ لِيَضْحَكَ بِهِ الْقَوْمِ وَيْلٌ لَهٌ وَيْلٌ لَهُ
"Celaka orang yang berbicara kemudian berbohong supaya orang-orang menertawakannya celaka baginya, celaka baginya".[20]
Semestinya seseorang meninggalkan banyak tertawa, sebagaimana sabda Rasulullah r:
لاَ تُكْثِرُوْا مِنَ الضَّحِكِ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيْتُ الْقَلْبَ
"Janganlah kalian banyak tertawa sebab banyak tertawa menyebabkan matinya hati".[21]
·       Apabila seseorang berbicara dengan saudaranya kemudian dia menoleh kepadanya maka itu adalah amanah sebagaimana sabda Rasulullah r:                   
 إِذَا حَدَّثَ الَّرجُلُ بِاْلحَدِيْثِ ثُمَّ اْلتَفَتَ فَهِيَ أَمَانَةٌ
"Bilamana seorang membicarakan sesuatu kemudian dia menoleh kepadanya maka itu adalah amanah".[22] 
·         Mendahulukan orang yang lebih tua dalam berbicara, dan berbicara harus dengan suara yang terang dan tidak rendah serta harus dengan kalimat yang jelas yang dapat dipahami oleh semua orang dengan tidak mengada-ada dan berlebih-lebihan.
·         Tidak memotong pembicaraan orang lain, sebagaimana yang diceritakan tentang Nabi r yang berbicara dengan kaumnya lalu masuk kepadanya seorang badui, kemudian bertanya kepadanya tentang hari kiamat, namun Rasulullah tetap meneruskan pembicaraannya bersama para shahabat, setelah selesai beliau berkata: “Manakah orang yang sebelumnya bertanya tentang hati kiamat?, maka barulah beliau menjawab pertanyaan orang tersebut.[23]
·         Berbicara dengan pelan-pelan dan tidak pula tergesa-gesa, sebagaimana diceritakan tentang Nabi r bahwa apabila beliau bicara dengan tentang sesuatu, seandainya ada orang yang menghitung ucapannya nya niscaya dia bisa terhitung).[24] Dan Rasulullah r tidak berbicara secara terus menerus, beliau bicara dengan suatu kalimat yang dan dan terperinci sehingga orang yang mendengarnya menjadi hafal.[25]
·         Berbicara dengan suara, pelan Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَاغْضُضْ مِنْ َصوِْتكَ   "Pelankanlah suaramu". [26]
·         Menjauhi kata-kata yang haram, seperti mengkafiran orang lain, bersumpah dengan selain nama Allah, perkataan seseorang: “Celaka manusia”, bersumpah dengan thalak serta mencaci maki masa.
·         Meninggalkan mementingkan diri sendiri dalam berbicara.
·         Tidak menceritakan tentang pribadi untuk membanggakan diri sendiri sebagaimana firman Allah I:    فَلاَ تُزَكُّـوا أَْنفُسَكُمْ
 "Maka Janganlah kamu mengatakan dirimu suci". "[27].
·         juga tidak mengagungkan diri sendiri dengan mengatakan aku, kami berpendapat dan sebagainya.
·         Menjaga perasaan orang lain, Ibnu Qoyyim rahimahullah berkata: “Di antara mereka ada orang yang dirasuki oleh dorongan semangatnya (ruh) ini adalah keadaan yang berat lagi dibenci, dia adalah wujud akal yang tidak pantas berbicara untuk memberikan manfaat bagimu, atau tidak bisa berdiam dengan baik sehingga bisa mengambil pelajaran darimu, serta tidak mengetahui dirinya sendiri sehingga bisa menempatkan dirinya pada tempatnya.
·         Tidak mengungkapkan cacian kepada khalayak.
·         Hendaknya ia meninggalkan beberapa hal di bawah ini:
q  Banyak bertanya dan sengaja mengada-ada pertanyaan tersebut sebagaimana sabda Nabi r:

وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلاَثًاوَمِنْهَا َكثْرَةُ السُّؤَالِ

"Dan membenci tiga hal dari kalian salah satunya adalah cerewet dalam bertanya".[28]
q  Tergesa-gesa memberikan jawaban.
q  Tergesa-gesa memberikan pendapat, baik dalam hal yang kecil atau yang besar.
q  Sibuk mengahadapi orang-orang randah dan hina.
q  Berbicara tidak sesuai dengan keadaan.
q  Berbicara yang tidak keruan sebagaimana hadits Rasulullah r:

      منْ حُسْنِ إِسْلاَمِ اْلمَرْءِ  َترْكُهُ مَالاَ يَعْنِيْهِ

"Dari kesempurnaan Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak ada manfaatnya".[29]
q  Berbicara disamping orang yang tidak menyukainya.
q  Mengulang-ulangi omongan.
q  Meninggikan diri terhadap orang yang mendengarkan omongan.
q  Tidak mendengarkan orang lain yang berbicara dengan baik.
q  Menganggap remeh terhadap pembicaraan orang lain.
q  Meminta orang lain untuk mempercepat menyelesaikan perkataannya.
q  Meninggalkan orang padahal seseorang belum menyelesaikan perkataannya.
q  Tergesa-gesa memvonis orang yang berbicara sebagai pembohong.
q  Menyepelekan perkataan orang yang masih muda belia.
q  Tergesa-gesa menyebarkan suatu berita sebelum nampak fakta yang kongkrit (tentang kebenaran berita tersebut) dan belum jelas manfaat menyebarkannya.
q  Mendengarkan dan menerima perkataan orang secara langsung tanpa menyaring dan menseleksi kebenaran berita tersebut.
q  Kasar dalam memanggil orang. Allah I berfirman:
وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُوْلُ الَّتيِ هِيَ أَحْسَن,إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزِغُ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ ِلِْلإِنْسَانِ عَُدًّوا مُبِيًْا
"Katakanlah kepada hamba-hambaku: "Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang baik (benar), sesungguhnya syaitan menimbulkan perselisihan diantara mereka, sesungguhnya syaitan merupakan musuh yang nyata bagi manusia".[30]
Pada ayat yang lain Allah I berfirman:     
      وَقُوْلُوْا ِللنَّاسِ حُسْنًا"Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia".".[31]
q  Kasar dalam mencela.
q  Tidak mengetahui adab berdiskusi.
q  Tidak menghiraukan perasaan orang lain.
q  Bersikap apriori terhadap teman bicara.
q  Bergaya bahasa menantang dan menyerang.
q   Masa bodoh dengan nama teman bicara.
q  Mengabaikan prinsif-prinsif yang benar.
q  Ngotot dengan kesalahan dan enggan kembali kepada yang hak.
q  Tidak menguasai materi diskusi.
q  Memvonis saat diskusi berlangsung.
q  Bercabang dalam judul pembicaraan dan keluar dari fokus semula.
q  Senang membantah dan bertentangan.
q  Tenggelam dalam membicarakan sesuatu yang tidak bermanfaat.
q  Banyak saling mencela.
q  Banyak mengeluh kepada orang-orang.
q  Banyak membicarakan tentang perempuan.
q  Banyak bermain-main/senda gurau.
q  Banyak bercanda.
q  Banyak bersumpah, Allah I berfirman:

وَاحْفَظُوْا أَيْمَانَكُمْ "Jagalah sumpah-sumpah kalian".[32]

q  Mencri-cari kesalahan teman duduk.

q  Menampakkan kebosanan terhadap teman duduk.
q  Membebankan teman duduknya untuk melayaninya.
q  Melakukan suatu hal yang bertentangan dengan rasa di dalam majlis seperti membersihkan gigi dengan tusuk gigi, meludah di hadapan orang banyak, terbahak-bahak, dan memain-mainkan kumis serta jenggot.
q  Melakukan kemungkaran di dalam majlis.
q  Menghadiri majlis yang di dalamnya terdapat kemungkaran dan menemani mereka melakukan hal tersebut.
q  Duduk dengan posisi yang tidak mencerminkan sopan santun.
q  Duduk di tengah-tengah lingkaran orang banyak.
q  Memaksakan diri berbicara secara fasih sebagaimana Rasulullah r bersabda:
سَيَكُوْنُ قَوْمٌ يَأْكُلُوْنَ بِأَلْسِنَتِهِمْ كَمَا تَأْكُلُ الْبَقَرَةُ مِنَ اْلأَرْضِ
"Akan ada suatu kaum dimana mereka makan dari hasil lisan-lisan mereka sebagaimana sapi memakan makanan dari bumi".[33]
q  Janganlah membawa suatu perkataan apabila engkau tidak bisa membawakannya seperti yang sebenarnya".
q  Senantiasa berusaha semaksimal mungkin untuk menutup aib saudara semuslim, hal ini sebagaimana di beritakan oleh Rasulullah r:
   لاَ يَسْتُرُ عَبْدٌ عَبْدًا فِي الدُّنْيَا إِلاَّ سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Tidaklah seorang hamba menutupi aib hamba yang lainnya di dunia melainkan Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat nanti".[34]
q  Menjaga agar tidak menamai dengan gelar-gelar yang jelek sebagaimana Allah berfirman:                       وَلاَ تَنَابَزُوْا بِاْلأَلْقَابِ   
"Janganlah kamu panggil-memanggil dengan memakai gelar-gelar yang buruk".[35]
dan firman Allah I pula:
 وَيْلٌ ِلكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ
"Celaka bagi pengumpat lagi  pencela"[36]
Rasulullah r bersabda:
بِحَِسَبٍ اْمرِئٍ مِنَ الشَّـرِّ أَنْ َيحْقِـرَ أَخَاهُ اْلمُسْلِمَ
"Cukuplah seseorang berbuat dosa yaitu mengejek saudaranya yang muslim".[37]
o  Apabila seseorang berbicara dengan suatu kaum, maka tidak boleh baginya mengarahkan pandangannnya kepada orang tertentu tanpa yang lainnya.
o  Apabila seseorang salah dalam mengatakan suatu perkataan walaupun perkataan itu mengandung kekufuran dimana lisannya ceroboh dengan ucapan tersebut, maka janganlah perkataan tersebut dijadikan sebagai modal untuk menjelekannya. Dalil yang menjelaskan hal ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh imam Muslim bahwasanya Rasulullah r bersabda:
ِللهِ أَشَدُّ فَرَحًا بَتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِيْنَ يَتُوْبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلىَ رَاحِلَتِهِ بِأَرْضٍ فَلاَةٍ, فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا َطعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِي ظِلِّهَا, وَقَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَاِلكَ إِذَا هُوَبِهَا قَاِئمَةً عِنْدَهُ فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا ُثمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ اْلفَرْحِ: اَللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِي وَأَنَا رَبُّكَ أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ اْلفَرَحِ
"Sesungguhnya Allah lebih gembira dengan taubat seorang hambaNya tatkala ia bertaubat kepadaNya dari seseorang yang bersama hewan tunggangannya di suatu padang yang luas, kemudian hewan itu menghilang darinya sedangkan makanan dan minumannya ada padanya. Lalu ia merebahkan badannya dibawah pohon karena telah putus asa dengan hewannya itu. Namun, tatkala dia bangun, tiba-tiba hewan tersebut berdiri dihadapannya, kemudian ia mengambil tali pengikatnya sambil berkata dengan perasaan yang sangat bahagia: “Ya Allah sesungguhnya Engkau adalah hambaku dan aku adalah tuhanMu”, Ia salah mengucapkannya karena kegembiraannya".[38]




[1]  HR. Ahmad dalam kitab Al Musnad no:8967
[2] HR Bukhari no:6018
[3]  HR Bukhari no:2989 Muslim no:1009
[4]  HR Bukhari no:6563 Muslim no:1016
[5]  HR.At Tirmidzi  no: 2018 dari hadits Jabir r.a dengan memakai lafadz dari beliau
[6]  QS. Al Hujurat:12
[7] Imam Bukhari mengemukakan dalil diperbolehkannya menceritakan orang yang berbuat kerusakan dan kesyirikan dengan sabda Rasulullah r ketika menceritakan Ainah bin Hisan tatkala ia meminta izin kepada Nabi r untuk bertemu dengan beliau saat itu beliau berkata :Sejelek-jeleknya saudara keluarga.   
[8]  Pengarang kitab Al Mukhtar dari golongan Hanafiyah berkata: ولا غيبة لأهل القرية (Tidak ada ghibah pada penduduk kampung) . Adab As Syariyyah Ibnu Muflih Juz 1 Hal 274
[9]  HR.Abu Daud no: 3997 dan dihasankan oleh Al Albani
[10]  HR.At-Tirmidzi no: 1967 dihasankan oleh Al Albani
[11] HR.Abu Daud no:4990 dan dihasankan oleh Al Albani
[12]  HR.Shohih Al jami' 7620
[13]  HR. Bukhari no: 6056 Muslim no:105
[14] HR.Muslim no:5 dan lafadz hadits darinya
[15] QS.At-Taubah(10):119
[16] HR Bukhari no:1386 dan Ahmad no:19652
[17] HR. Abu Daud no: 4921dan dishohehkan oleh Al Albani
[18] HR.Bukhari no:3559  
[19] HR.Abu daud no:4800 dan dihasankan oleh Al Albani
[20] HR.Abu daud no: 4990 dan dihasankan oleh Al Albani
[21]  HR.Ibnu Majah no:4193  dan di shohehkan oleh Al Albani
[22] HR. Abu daud no:4878 dan dihasankan oleh Al Albani
[23] HR. Bukhari no:59
[24] HR. Bukhari no:3568
[25] HR. Ahmad no:25677
[26] QS. Lukman:19
[27] QS. An Najm:32
[28] HR.Muslim no:1715 Ahmad juz 2 hal 27
[29]  HR.At-Turmudzi no:1887dan dihasankan Al Albani
[30] QS. Al Isra:53
[31] QS. Al Baqoroh:83  
[32] QS.. Al Maidah( 4):89)
[33]  HR.Shohih Al Jami'
[34]  HR.Shohih Al Jami'
[35]  QS.Al Hujurat:11
[36] QS Al Humazah:1
[37]  HR.Shohih Al Jami'
[38] HR. Muslim no:2747 kitab At Taubah

antara harapan dan ajal


Tiap hari kita disuguhi informasi tentang berbagai kematian yang merenggut nyawa manusia di berbagai belahan bumi dengan sebab-sebab yang variatif. Kita mengetahui bahwa kematian pasti akan menghampiri setiap manusia, siapa saja, dimana saja dan kapan saja. Kematian adalah sesuatu yang pasti akan menjemput manusia, namun secara umum pembicaraan tentang kematian bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Bahkan naluri manusia cenderung ingin hidup seribu tahun lagi. Ini tentu saja bukan hanya ucapan Khairil Anwar, tetapi Al-Qur'an melukiskan keinginan sekelompok manusia untuk hidup selama itu :
" Dan sungguh kamu akan mendapati mereka seloba-loba manusia kepada kehidupan ( di dunia ), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa. Dan Allah mengetahui apa yang mereka kerjakan " (QS Al Baqarah : 96 ).

Banyak faktor yang menyebabkan orang takut akan kematian. Ada orang yang takut mati karena ia tidak mengetahui apa yang akan dihadapinya setelah kematian, mungkin juga karena merasa bahwa yang dimiliki sekarang lebih baik dari yang akan dihadapinya nanti. Ada juga karena membayangkan betapa sulit dan pedih pengalaman mati dan sesudah mati, mungkin karena khawatir memikirkan atau prihatin terhadap keluarga yang ditinggalkan atau karena tidak mengetahui makna hidup dan mati, dan lain sebagainya sehingga mereka merasa cemas dan takut menghadapi kematian. Dari sini lahir pandangan-pandangan optimistis dan pesimistis terhadap kematian dan kehidupan.

Manusia melalui nalar dan pengalamannya tidak mampu mengetahui hakikat kematian, karena itu kematian dinilai salah satu persoalan ghaib yang paling besar. Sekalipun demikian, setiap melihat bagaimana kematian merenggut nyawa yang hidup, terutama orang-orang yang paling dekat dan dicintainya, manusia semakin terdorong untuk mengetahui hakekatnya, atau paling tidak ketika itu akan terlintas dalam benaknya bahwa suatu ketika iapun akan mengalami kematian yang sama.

Manusia menyaksikan bagaimana kematian tidak memilih usia atau tempat, tidak pula menangguhkan kematiannya sampai terpenuhi semua keinginannya. Di kalangan sementara orang, kematian menimbulkan kecemasan, apalagi mereka yang memandang bahwa hidup hanya sekali yakni hanya di dunia saja. Sehingga tidak sedikit yang pada akhirnya menilai kehidupan ini sebagai siksaan, dan untuk menghindar dari siksaan itu mereka menganjurkan agar melupakan kematian dan sedapat mungkin menghindari segala kecemasan yang ditimbulkannya dengan jalan melakukan apa saja secara bebas tanpa kendali demi mewujudkan eksistensi manusia.

Tuntunan Islam

Islam sebagai tuntunan hidup manusia mengajarkan bahwa ada kehidupan sesudah kematian. Kematian adalah awal dari suatu prjalanan panjang dalam evolusi kehidupan manusia, dimana selanjutnya ia akan memperoleh kehidupan dengan segala macam kesenangan atau berbagai ragam siksaan dan kenistaan.
Al-Qur'an menilai kematian sebagai musibah malapetaka. Tetapi agaknya istilah ini lebih banyak ditujukan kepada manusia yang durhaka, atau terhadap mereka yang ditinggal mati. Dalam arti bahwa kematian dapat merupakan musibah bagi orang-orang yang ditinggalkan sekaligus musibah bagi mereka yang mati tanpa membawa bekal yang cukup untuk hidup di negeri akherat.

Kematian juga dikemukakan oleh Al-Qur'an dalam konteks menguraikan nikmat- nikmat Allah kepada manusia. Dalam surat Al Baqarah ayat 28 Allah mempertanyakan kepada orang-orang kafir :
"Bagaimana kamu mengingkari (Allah) sedangkan kamu tadinya mati kemudian dihidupkan (oleh-Nya) kemudian kamu dimatian dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kamu dikembalikan kepada-Nya"(QS Al Baqarah : 28).

Nikmat yang diakibatkan oleh kematian bukan saja dalam kehidupan ukhrawi nanti bagi orang-orang yang beriman kepadanya, tetapi juga dalam kehidupan dunia, karena tidak dapat dibayangkan bagaimana keadaan dunia kita yang terbatas arealnya ini, seandainya semua manusia hidup terus menerus tanpa mengalami kematian.
Mengenai kehidupan setelah kematian, Muhammad Iqbal, seorang pemikir besar asal Pakistan, menegaskan bahwa mustahil sama sekali bagi makhluk manusia yang mengalami perkembangan jutaan tahun untuk dilemparkan begitu saja bagai barang yang tidak berharga. Tetapi itu baru dapat terlaksana apabila ia mampu menyucikan jiwanya secara terus menerus. Penyucian jiwa itu dengan jalan amal saleh. Bukankan Alqur'an menegaskan : "Maha Suci Allah yang di dalam genggaman kekuasaan-Nya seluruh kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu siapakah diantara kamu yang paling baik amalnya, dan sesungguhnya Dia Maha Mulia lagi Maha Pengampun " (QS Al Mulk : 1).

Demikianlah terlihat bahwa kematian dalam pandangan Islam bukanlah sesuatu yang buruk, karena disamping mendorong manusia untuk meningkatkan pengabdiannya dalam kehidupan dunia ini, kematian juga merupakan pintu gerbang untuk memasuki kebahagiaan abadi serta mendapatkan keadilan sejati. Namun sebaliknya, bagi sementara orang, kematian adalah suatu hal yang mengerikan dan menakutkan. Dua sikap yang berbeda itu muncul diakibatkan oleh perbedaan amal manusia yang diperankannya dalam kehidupan dunia ini. Dalam sebuah hadits Rasulullah saw menjelaskan bahwa : "Seorang mukmin saat menjelang kematiannya akan ddatangi oleh malaikat sambil menyampaikan dan memperlihatkan kepadanya apa yang bakal dilaminya setelah kematian. Ketika itu tidak ada yang disenanginya kecuali berteu dengan Tuhan (mati). Berbeda halnya dengan kafir yang juga diperlihatkan kepadanya apa yang bakal dihadapinya dan ketika itu tidak ada sesuatu yang lebih dibencinya dari pada bertemu dengan Tuhannya (mati) ".

Tingkatan Sikap Manusia

Kematian mempunyai peranan besar dalam memantapkan akidah serta menumbuhkembangkan semangat pengabdian kepada Allah SWT. Tanpa kematian, manusia tidak akan berpikir apa yang akan terjadi sesudah mati dan tidak akan mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Karenanya manusia dianjurkan untuk memperbanyak mengingat dan berpikir tentang kematian, Rasulullah saw bersabda :
 "Perbanyaklah pemutus segala kenikmatan duniawi (kematian) ".

Dalam mengingat kematian ini, Imam Al Ghazali membagi manusia kepada tiga tingkatan. Pertama : Al Munhamik, yaitu orang yang tenggelam dalam tipu daya dan hawa nafsu dunia. Ia tidak mengingat kematian dan enggan untuk diingatkan orang tentang kematian. Dan manakala diiingatkan justeru akan menjauhkannya dari Tuhannya.
Orang seperti ini kurang mempersiapkan bekal untuk menghadapi kematian bahkan justru bergelimang dosa dan maksiat. Kedua : At Taib, yaitu orang yang selalu bertaubat memohon ampunan dari Allah. Iapun banyak mengingat kematian yang mendorongnya beramal dan mempersiapkan bekal. Kalaulah ia tidak menyukai kematian tidak lain karena khawatir bekal yang dipersiapkanya belum cukup sehingga dalam kondisi demikian ia takut menghadap Allah. Ketiga : Al 'Arif, yaitu orang yang mengetahui posisi dirinya di hadapan Allah. Ia senantiasa mengingat kematian, bahkan ia selalu menanti saat kematian itu. Karena baginya kematian adalah momentum perjumpaan dengan Allah, Dzat yang selama ini dicintainya dan dirindukannya dan ia memiliki bekal dan persiapkan penuh untuk menghadapi kematian.

Dalam pandangan beberapa ulama, ingat akan kematian disamping meringankan beban petaka dan obsesi duniawi, juga akan mampu melembutkan hati manusia, dengan demikian ia akan memiliki sensitifitas terhadap nilai dan prilaku serta tindakan negatif dalam berbagai bentuknya. Kesombongan, pertengkaran, pertumpahan darah, ketidak adilan serta prilaku negatif lainnyaseringkali timbul akibat hilangnya kelembutan hati ini. Di sisi lain, ingat akan kematian akan merefleksikan nilai dan tindakan positif dimana manusia akan memaksimalkan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk mengisi hidupnya yang pendek dengan hal-hal positif baik untuk pribadi, masyarakat, bangsa dan agamanya.
Sungguh, manakala manusia mengingat bahwa segala atribut dan gebyar-gebyar duniawi akan ditingalkannya, manakala kematian menjenguknya, tanah dan pasir menjadi tempat tidurnya, Munkar dan Nakir menjadi temannya, kuburan menjadi tempat tingalnya, hari kiamat menantinya dan surga atau neraka tempat kembalinya, maka ia tidak akan bisa melupakan kematian yanag akan datang tidak lama lagi, karena sesuatu yang pasti datang itu dianggap dekat:
" Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan " (QS Al Munafiqun: 11).

Barangkali sementara orang bisa melupakan kematiankarena sibuk dengan dunia yang menyelimutinya. Ia baru sadar akan kematian apabila kematian menimpa orang di sekelilingnya, terutama sanak keluarganya. Bahkan ia lupa untuk mempersiapkan bekal amal bagi kehidupan abadi sesudah kematian kecuali jika kematian menjemput dirinya. Karena itulah Rasulullah saw bersabda: "Orang pandai adalah orang yang mampu mengontrol dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian" Wallahu a'lam.-






Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Top WordPress Themes