28 September 2012

Dibawah tiang bendera 13 tarikan

          
                
               Pada kesempatan kali ini saya ingin sharing tentang tempat yang menjadi favorit  kedua saya di Sman 3 mataram setelah masjid Nurul huda. Tempat yang sangat nyaman ketika kesendirian itu berteman sepi , Tempat yang sangat menyenangkan ketika kebersamaan itu memecahkan kesunyian*apaan coba,hoho. Banyak hal banyak cerita yang saya lewatkan dibawah tiang bendera ini, entah itu di pagi hari, siang, sore bahkan di waktu malam. 
 
                Ya, dibawah tiang bendera 13 tarikan. 13 tarikan adalah lebih kurang jumlah tarikan pada saat pengibaran maupun penurunan yang biasa kami lakukan, angka juga menggambarkan jumlah kami senior angkatan 2007 yang kebetulan juga jumlahnya 13. Sebuah kebetulan yang menyenangkan,he. Tapi bukan jumlah yang ingin saya ceritakan melainkan tentang ceritanya itu sendiri, saat2 di bawah tiang bendera ini, baik sendiri maupun saat bersama.

                Tau kah kalian, tiang bendera ini amat di kramat kan oleh para senior paskibra angkatan 2007 keatas. (loh, trus senior angkatan di bawahnya kok gak? Tanyakan saja pada tiang saat tak bersama benderanya,he) baik dari sejarahnya maupun kejadian kejadian yang kami dan mereka alami. Dulu, tiang bendera ini selalu di rantai, liat gak 4 pilar di setiap sudutnya? Nah itulah yang menjadi pengait rantai2nya.  Hanya saat pengibaran dan penurunan saja rantai depannya di buka, biar orang2 yang gak berkepentingan gak melintas seenaknya di diatas lantai tiang bendera. Tapi sekarang, rantainya dah ilang, pilarnya udah entah dimana? Jadi kesan keistimewaan si tiang bendera mulai pudar.

                Salah satu yang membuat saya jatuh cinta dengan tiang bendera ini adalah ketika (lok gak salah) pada tgl 11 september 2006. setelah upacara hari senin, terjadi demo yang menolak dipindahkannya kepala sekolah saat itu. Salah satu aksi demo itu adalah ingin menurunkan bendera setengah tiang. Enak aja, bendera dah di naikin malah minta di turunin, cari perkara aja ma anak paskib.  Di saat seperti itu, pertama kalinya saya ngerasain gmana persaudaraan senior2 saya saat menjaga tiang bendera.  Mereka melingkari tiang bendera, menjadi lapis rantai kedua agar orang2 itu gak bias mendekat, tapi saking banyaknya tetep aja bisa tertembus. Wah itu dah tonjok-tonjok saat rebutin tali bendera. Untungnya ada almarhumah bunda Magda yang ikut melerai keinginan mereka yang pengan nurunin tu bendera. Dan  untungnya juga mereka pada manut sama bunda, lok gak wah bisa berabe urusannya, bisa-bisa bendera bukan turun setengah tiang malah jatuh tertimpa tiang. Kebetulan juga bunda saat itu  menjadi Pembina paskibra.

                Semanjak peristiwa Itu, dibawah tiang bendera ini bisa dibilang merupakan salah satu tempat favorit saya, di samping saya sebagai senior yang mengibarkan dan menurunkan bendera di tiang ini. Tapi seperti yang saya tuliskan di awal. Keistimewaan dari si tiang udah mulai pudar, mulai dari rantai yang hilang, pilar yang di lepas dan sikap senior paskibra pada khususnya yang mulai luntur gak jelas atas rasa hormatnya di tempat pengibaran dan penurunan sang bendera merah putih. Semoga mereka, orang orang yang ada di smanti khususnya senior2 paskibra jaman sekarang bisa melihat, memperhatikan, dan menjaga keistimewaan bendera beserta tiangnya. Tanpa tiang bendera tak akan berkibar saudara saudara…

Mungkin kalian punya kisah tersendiri, punya cerita tersendiri yang lebih menarik tentang tiang bendera ini, itupun kalo ada rasa cinta terhadap si tiang, hoho.
semoga hanya saya dan orang2 aneh lainnya yang hanya memiliki kecintaan terhadap benda mati ini yang sekarang hanya dipandang sebelah mata tanpa berarti apa-apa. Tapi jika ada yang lain, Tolong dijaga bila perlu di rantai kembali agar ia (tiang bendera) menjadi tempat kebanggaan untuk kami saat kami mengibarkan sang merah putih.

***Jreeeeeeeeeeeeeeeeeeeeang…….***

Saat sendiri di bawah tiang bendera ini, mengingat kenangan2 bersama mereka senior angkatan 2007 dan para kakak senior kami, 

saat sendiri dibawah tiang bendera ini, banyak harapan yang saya ingin titipkan kepada penerus paskibra jaman sekarang yang sifatnya untuk menjaga tiang bendera ini, menjaga nama baik organisasi, menjaga nama baik paskibra smanti.

Saat sendiri di bawah tiang bendera ini, penuh cerita penuh cinta,

Saat sendiri dibawah tiang bendera ini, terlihat jelas indahnya malam bertabur bintang yang menemani sang rembulan,

Saat sendiri dibawah tiang bendera ini, saya rindu saat sendiri di bawah tiang bendera ini.

Kemudian, saat bersama dibawah tiang bendera ini, kami selalu berbagi bersama junior paskibra maupun capas baik itu makanan maupun pengalaman,hehe 

Saat bersama dibawah tiang bendera ini, Kita adalah saudara, Dari rahim ibu pertiwi, Ditempa oleh gelombang, Dibesarkan jaman, Di bawah tiang bendera,

Saat bersama dibawah tiang bendera ini, Dulu kita bisa bersama, Dari cerita yang ada, Kita bisa saling percaya, Yakin dalam melangkah,

Saat dibawah tiang bendera 13 tarikan ………………………………..

25 September 2012

si Najma dari Kekeri



 Maaaf sebelumnya, bagi yg punya foto di samping ne,he...
kalian tau kan siapa dia, khususnya anak Smanty angkatan 2011. ne anak namanya Nindya (bgitu org memanggilnya) tapi saya manggilnya Najma,he. Nama lengkapnya kalau gak salah Siti Najma Nindya Utami (panjang amat, maklum 4 kambing,he).

      mungkin kalian bertanya kenapa saya posting tulisan ttg ne anak, jawabannya adalah "iseng aja". eit,ato mungkin kalian anggep karna ada suatu hubungan yg khusus ato apalah namaya sehingga saya bercerita ttg si najma. itu juga jawaban yg gak mungkin coz dia sudah ada yg hampir memiliki bisa di bilang 50,60,70,bahkan 80%  yaitu si Lalu Lalang (begitu dia menyebutnya,he) dari mana muangkin lupa saya.he

    awal kenal dia itu waktu dia masih cacapas, itupun hanya kenal nama lom kenal muka, coz sempat chating sambil sharing ttg sebuah organisasi. kemudian saat kenal dekat ma dia tu saat dia sering sharing ttg Remanda (Remaja Masjid Nurul Huda,begitu org menyebutnya). ne anak sok kenal banget lho, hoho *canda. masa lom kenal saya udah langsung maen todong minta saran itu ini, gak sopan ya,he. tapi, ya sudahlah, ketimbang gak ada yg di kerjain ya tak kerjain dia,he 

    sejujurnya, ne anak paling mudah di racuni dengan saran2 yang sangat ekstrime dengan ide ide gila dari beberapa org yg sebenernya waras tapi dianggepnya gila,parahkan? emang parah,hoho. apapun yang disaranin, diturutin aja ma si najma ne,he. jadi kasarnya kami manfaatin ne anak utk hal hal yg gak wajar, hal2 yg orag gila aja mikir2 utk ngelakuinnya. tapi saya bingung, kok dia manut ajak ya? entah dia keserupan apa ampe seperti ini, bersedia diapakan dan dijadikan apa aja oleh kami,he

   kita omongin bagian yang baik2 aja ya ttg nya, ne anak orangnya ramah bgt. mau bukti? ne buktinya. pagi dia dah brangkat sekolah, sampainya di sekolah, disapanya pintu gerbang beserta satpam sekolah, kemudian lapangan tengah, tiang bendera, setelah itu masjid kami tercinta. setiap orang, siapapun itu kenal gak kenal selalu ia salamin, khususnya guru. mungkin lok ketemu dengan guru tiap satu menit bisa dihitung salamnya dah berapa puluh kali,hoho. selain itu sgala hal yang di luar sekolah pun tak luput dari salamnya, dari mas cilok, mas parkir sampai mba jus langganannya,hoho.

    si najma ini manusia ungu, lok hulk itu manusia ijo. ne anak pada ungu semua. bayangin aja sgala2 miliknya tu pasti warnanya ungu dari pakaian tas,buku, motor dan lain2nya. bahkan lok dia punya barang selain ungu, pasti dah di unguin. dasar manusia ungu gak berperi kewarnaan,he selain itu ada hal yang menjadi favoritnya, saat galau atopun gak dia slalu harus ada dengannya. itu adalah moccafloat,choki-choki,coklat cadbury dan es krim cornetto. 4 item itu adalah pusakanya, jika ia tak menjumpai salah satu dari itu semua, dia pasti akan menjadi manusia paling galau yang ngorek2 tanah di pojokan rumah,he. jadi lok pengen jinakin dia ya pake salah satunya aja. apalagi lok semuanya, wih bisa menjadi jadi manut bgt ma kalian lho,he. tapi saya gak pake bgituan dia tetep ajak manut suruh ini suruh itu,hoho
   
    tapi satu hal yang saya salut dari si najma dan itu yang menjadi alasan saya menulis hal tentang dia. dia adalah siswi yang baru saya temuin di Smanti yang memiliki royalitas tinggi terhadap apa yang kami sayangi apa yang saya cintai. itulah kenapa saya dekat banget ma dia. kalian tau apa itu? dia sangat royal dengan masjid nurul huda Sman 3 mataram. masjid yang saya cintai, yang sudah menjadi bagian yg terpenting dalam hidup saya. mungkin kalian tidak tau apa yang sudah dia lakukan, apa yang seharusnya dan tidak seharusnya ada di sana. kedekatannya dengan masjid membuat kami menjadi dengan dengannya selain kepolosannya yang mudah untuk di manfaatkan, itulah yang paling mengasyikkan,hoho. (prasaan ne paragraf pada gak nyambung deh,he)

   sebenarnya banyak hal yang berkaitan dengan dia khususnya dengan masjid nurul huda yang gak bisa diceritakan disini (terlalu banyak abisan,he). pokoknya ih wooow deh buat si najma dari kekeri. kami salut ma kamu deq, hanya saja kami tak ingin mengakuinya,hehe. kamu adalah hal terpenting di sekolah kami, kamu adalah hal terindah di masjid kami. kamu adalah si najma, kamu adalah segalanya untuk orang2 yang apa ya? apapunlah,hehe. sekarang dia menjabat sebagai wakil ketua osis periode 12/13. semoga dia bisa mengemban tugasnya sebagai siswi yang baik dan wakil osis yang slalu bisa di manfaatkan,hehe
"Tetap semangat deq, kami slalu bersamamu apapun yang terjadi. kami slalu bersama orang2 yang mencintai masjid kami dan menyayangi sekolah kami"
berjuang ya, salam sama mereka...mereka..dan mereka


NB: maaf deq, ini hanya kesengajaan dan keisengan saja. jadi permasalahkan ya biar wooow. untuk yang baca jangan salah paham dan jangan kesulitan membaca karna sengaja gak dirapikan tulisannya, tata letaknya dan kontennya. lok jadi tugas bahasa indonesia langsung remidi kali ya,he

sekian dari saya, bagi yang ingin memanfaatkannya silahkan berurusan dengan yang bersangkutan, wassalam.....



13 Februari 2012

Aku Untuk Mereka




“Tak ada yang lebih indah dari menyambung silaturrahim bersama saudara-saudariku, yang ketika kita mengingat mereka, maka ingat pula kita pada Sang Pemilik Kehidupan. Selagi masih ada usia, aku ingin ikut mewarnai hidup mereka, walau hanya berupa pertemuan sesaat tuk mengucap salam, bertegur sapa, dan menyunggingkan senyum pada mereka. Karena kutahu, kini ku hanya sanggup mengenang canda tawa suka duka dan perjuangan kita dahulu.”



kata-kata itu spontan terucap. Mungkin memang itulah perasaan yang sanggup kumengerti kala kebahagiaan melandaku, ya
Masih tersisa dalam ingtan, masa-masa SMA yang pernah kujalani. Indah, begitu indah. Seindah skenario yang Ia buat. Mereka, teman berjiwa saudara. Tercipta tuk mewarnai kisah hidup bersama. Melalui merekalah, Allah ajariku banyak hal.
Ya, masih tersisa dalam ingatan, kala tawa canda menghiasi hari, seakan tak ada yang sanggup kuminta lagi, karena semua ini telah cukup bagiku. Kala hati yang teriris, terhibur oleh kepedulian mereka padaku, tak ada yang sanggup kuminta lagi, karena semua itupun telah cukup untuk aku merasa bahagia.

Masih, masih ada kebersamaan itu, tersimpan rapi dalam ingatan. Jiwa-jiwa itu, yang Kau satukan kami dalam luapan cinta kasihMu, tertata rapi dalam segmen-segmen hatiku. Semua ini telah cukup.

Rabb, ...
Renunganku, malam setelah ini semua terjadi.
Tak ada yang sanggup terucap lagi, Rabb.
Terima kasihku. Kau beriku kekuatan tuk memilih mereka, hingga bingkai kehidupan ini penuh warna. Kau beriku kekuatan tuk memilih jiwa-jiwa mereka, hingga jiwa kami ada adalah untuk mengingatMu. Terima kasih, Kau telah izinkanku merasakannya. Bersama mereka, saudara-saudara yang terpilih. Bersama mereka, masa-masa yang terpilih. Dan bersama mereka pula, qalbu-qalbu yang terpilih.

Kini,
Semua terbukti, apa yang dahulu terasa akan menjadi masa lalu pada akhirnya.
Sungguh, Rabb. Jika kusadar lebih dulu bahwa kebersamaan itu akan menjadi masa lalu pada akhirnya, maka kuingin lebih lama ada bersama mereka.
Himpun kami, Rabb, walau terpisah jarak, waktu dan perlu.
Satukan kami, Rabb, walau tawa tak serenyah dahulu, walau kesempatan tak seluang dahulu.
Kuminta itu, untuk menggenapkan kebahagiaanku. Kuharapkan itu, tuk menyempurnakan keindahan skenarioMu.

Malam ini, telah aku ikhlaskan apa yang bukan menjadi hakku.
Telah aku relakan apa yang seharusnya pergi. Dan telah aku izinkan apa yang semestinya berpisah.
Cukuplah karuniaNya,
Dengan nikmatnya suatu pertemuan antara dua insan karenaNya. Yang saling berbagi ilmuNya Yang selalu saling mengingatkan tentang Dia.

Dan...
Cukuplah do'a ke duanya,
yang dapat menyatukan mereka menuju JannahNya.
Allah cinta kita, sebagimana cinta kita karenaNya.

10 Desember 2011

mengejar kebahagiaan (?)

Suatu ketika, terdapat seorang pemuda di tepian telaga. Ia tampak termenung. Tatapan matanya kosong, menatap hamparan air di depannya. Seluruh penjuru mata angin telah di lewatinya, namun tak ada satupun titik yang membuatnya puas. Kekosongan makin senyap, sampai ada suara yang menyapanya. Ada orang lain disana.

"Sedang apa kau disini anak muda?" tanya seseorang. Rupanya ada seorang kakek tua. "Apa yang kau risaukan..?" Anak muda itu menoleh ke samping, "Aku lelah Pak Tua. Telah berkilo-kilo jarak yang kutempuh untuk mencari kebahagiaan, namun tak juga kutemukan rasa itu dalam diriku. Aku telah berlari melewati gunung dan lembah, tapi tak ada tanda kebahagiaan yang hadir dalam diriku. Kemana kah aku harus mencarinya? Bilakah kutemukan rasa itu?"

Kakek Tua duduk semakin dekat, mendengarkan dengan penuh perhatian. Di pandangnya wajah lelah di depannya. Lalu, ia mulai bicara, "di depan sana, ada sebuah taman. Jika kamu ingin jawaban dari pertanyaanmu, tangkaplah seekor kupu-kupu buatku. Mereka berpandangan. "Ya...tangkaplah seekor kupu-kupu buatku dengan tanganmu" sang Kakek mengulang kalimatnya lagi.

Perlahan pemuda itu bangkit. Langkahnya menuju satu arah, taman. Tak berapa lama, dijumpainya taman itu. Taman yang yang semarak dengan pohon dan bunga-bunga yang bermekaran. Tak heran, banyak kupu-kupu yang berterbangan disana. Sang kakek, melihat dari kejauhan, memperhatikan tingkah yang diperbuat pemuda yang sedang gelisah itu.

Anak muda itu mulai bergerak. Dengan mengendap-endap, ditujunya sebuah sasaran. Perlahan. Namun, Hap! sasaran itu luput. Di kejarnya kupu-kupu itu ke arah lain. Ia tak mau kehilangan buruan. Namun lagi-lagi. Hap!. Ia gagal. Ia mulai berlari tak beraturan. Diterjangnya sana-sini. Ditabraknya rerumputan dan tanaman untuk mendapatkan kupu-kupu itu. Diterobosnya semak dan perdu di sana. Gerakannya semakin liar.

Adegan itu terus berlangsung, namun belum ada satu kupu-kupu yang dapat ditangkap. Sang pemuda mulai kelelahan. Nafasnya memburu, dadanya bergerak naik-turun dengan cepat. Sampai akhirnya ada teriakan, "Hentikan dulu anak muda. Istirahatlah." Tampak sang Kakek yang berjalan perlahan. Tapi lihatlah, ada sekumpulan kupu-kupu yang berterbangan di sisi kanan-kiri kakek itu. Mereka terbang berkeliling, sesekali hinggap di tubuh tua itu.

"Begitukah caramu mengejar kebahagiaan? Berlari dan menerjang? Menabrak-nabrak tak tentu arah, menerobos tanpa peduli apa yang kau rusak?" Sang Kakek menatap pemuda itu. "Nak, mencari kebahagiaan itu seperti menangkap kupu-kupu. Semakin kau terjang, semakin ia akan menghindar. Semakin kau buru, semakin pula ia pergi dari dirimu."

"Namun, tangkaplah kupu-kupu itu dalam hatimu. Karena kebahagiaan itu bukan benda yang dapat kau genggam, atau sesuatu yang dapat kau simpan. Carilah kebahagiaan itu dalam hatimu. Telusuri rasa itu dalam kalbumu. Ia tak akan lari kemana-mana. Bahkan, tanpa kau sadari kebahagiaan itu sering datang sendiri."

Kakek Tua itu mengangkat tangannya. Hap, tiba-tiba, tampak seekor kupu-kupu yang hinggap di ujung jari. Terlihat kepak-kepak sayap kupu-kupu itu, memancarkan keindahan ciptaan Tuhan. Pesonanya begitu mengagumkan, kelopak sayap yang mengalun perlahan, layaknya kebahagiaan yang hadir dalam hati. Warnanya begitu indah, seindah kebahagiaan bagi mereka yang mampu menyelaminya.

penulis : other 


 

Mencari kebahagiaan adalah layaknya menangkap kupu-kupu. Sulit, bagi mereka yang terlalu bernafsu, namun mudah, bagi mereka yang tahu apa yang mereka cari. Kita mungkin dapat mencarinya dengan menerjang sana-sini, menabrak sana-sini, atau menerobos sana-sini untuk mendapatkannya. Kita dapat saja mengejarnya dengan berlari kencang, ke seluruh penjuru arah. Kita pun dapat meraihnya dengan bernafsu, seperti menangkap buruan yang dapat kita santap setelah mendapatkannya.

Namun kita belajar. Kita belajar bahwa kebahagiaan tak bisa di dapat dengan cara-cara seperti itu. Kita belajar bahwa bahagia bukanlah sesuatu yang dapat di genggam atau benda yang dapat disimpan. Bahagia adalah udara, dan kebahagiaan adalah aroma dari udara itu. Kita belajar bahwa bahagia itu memang ada dalam hati. Semakin kita mengejarnya, semakin pula kebahagiaan itu akan pergi dari kita. Semakin kita berusaha meraihnya, semakin pula kebahagiaan itu akan menjauh.

Sahabatku, cobalah temukan kebahagiaan itu dalam hatimu. Biarkanlah rasa itu menetap, dan abadi dalam hati kita. Temukanlah kebahagiaan itu dalam setiap langkah yang kita lakukan. Dalam bekerja, dalam belajar, dalam menjalani hidup kita. Dalam sedih, dalam gembira, dalam sunyi dan dalam riuh. Temukanlah bahagia itu, dengan perlahan, dalam tenang, dalam ketulusan hati kita.

Percayalah kbahagiaan itu ada dimana-mana. Rasa itu ada di sekitar kita. Bahkan mungkin, bahagia itu "hinggap" di hati kita, namun kita tak pernah memperdulikannya. Mungkin juga, bahagia itu berterbangan di sekeliling kita, namun kita terlalu acuh untuk menikmatinya.



2 Desember 2011

jangan jadi gelas

Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya
belakangan ini selalu tampak murung.

"Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di
dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu?" sang Guru bertanya.

"Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk
tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya," jawab sang
murid muda.

Sang Guru terkekeh. "Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam.
Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu."
Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan
gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana
yang diminta.

"Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu," kata
Sang Guru. "Setelah itu coba kau minum airnya sedikit."
Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air
asin.

"Bagaimana rasanya?" tanya Sang Guru.

"Asin, dan perutku jadi mual," jawab si murid dengan wajah yang masih
meringis.

Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis
keasinan.

"Sekarang kau ikut aku." Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat
tempat mereka. "Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau."
Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa
bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa
asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah
di hadapan mursyid, begitu pikirnya.

"Sekarang, coba kau minum air danau itu," kata Sang Guru sambil
mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir
danau.

Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan
membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin
dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya
kepadanya, "Bagaimana rasanya?"

"Segar, segar sekali," kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan
punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber
air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah.
Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang
tersisa di mulutnya.

"Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?"

"Tidak sama sekali," kata si murid sambil mengambil air dan
meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya,
membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.

"Nak," kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. "Segala masalah
dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih.
Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus
kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai
untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang
dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun
demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang
bebas dari penderitaan dan masalah."

Si murid terdiam, mendengarkan.

"Tapi Nak, rasa `asin' dari penderitaan yang dialami itu sangat
tergantung dari besarnya 'qalbu'(hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya
tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu
jadi sebesar danau."

penulis : other

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Top WordPress Themes