29 November 2011

batu krikil

"seorang pekerja pada proyek bangunan memanjat pada tembok yang sangat tinggi. pada suatu saat ia harus menyampaikan pesan penting kepada kawan kerjanya yang berada di bawah.Pekerja tersebut berteriak - teriak, tetapi temannya tidak bisa mendengarnya karena suara bising dari mesin-mesin dan orang-orang yang bekerja, sehingga usahanya sia-sia saja.

Oleh karena itu, untuk menarik perhatian temannya yang berada jauh dibawahnya, ia mencoba melemparkan koin uang logam didepan temannya. Temannya berhenti bekerja, mengambil uang logam tersebut lalu bekerja kembali. Pekerja itu mencoba lagi, tetapi usahanya yang kedua pun memperoleh hasil yang sama.

Tiba-tiba ia mendapat ide. Ia mengambil batu krikil lalu melemparkannya kearah teman yang ada di bawah. Batu itu pun jatuh tepat mengenai kepala temannya, dan karena merasa sakit, temannya yang dibawah menengadahkan kepala keatas. Sekarang pekerja tersebut dapat memberikan pesan catatan kepada kawannya di bawah."

_

Allah terkadang menggunakan cobaan-cobaan ringan untuk membuat kita menengadah kepada-Nya. seringkali Allah melimpahkan rahmat, tetapi itu tidak cukup untuk membuat kita menengadah kepada-Nya.

 "batu kecil" yang dilemparkan tadi bisa jadi merupakan peringatan kepada kita agar kita tidak selalu "sibuk" dengan urusan-urusan dunia...hm....terkadang kitapun selalu "lupa" bersyukur kepada Nya. "koin-koin" yang awalnya dilemparkan tersebut merefleksikan rahmat, rejeki, kesempatan, kelegaan, kesehatan, kemudahan, tetapi itu terkadang tidak membuat kita "menengadah" kepada Nya...akhirnya Tuhan melemparkan sebuah batu kecil kepada kita.

semoga dengan ini menjadikan kita Hamba-Hamba yang pandai mensyukuri Nikmat-Nikmat-Nya. dan walau kita ditimpa "batu kecil" kita tetap sabar,berdoa dan berharap Allah berbuat demikian karena Dia merencanakan kebaikan buat kita kelak, dan menjadikan kita manusia yang bertaqwa, amin.

penulis: other

19 November 2011

belajar dan berdo'a

Saat mengikuti rapat komite sekolah SMA dan kepala sekolah bercerita tentang percakapan seorang siswa dan ibunya.

Ibu: Nak, belajarlah yang rajin agar jadi anak yang pandai sebagai bekal hidupmu kelak. Sekarang kau kelas 1, belajarlah agar naik kelas 2.
Anak: Iya bu, saya berjanji. Nanti kalau saya naik kelas belikan aku hp ya?

Ibu: Belajarlah yang rajin nak. Dan berdoalah, apa yang kau minta pasti kau dapatkan nanti.
Si anak berdoa dan belajar dan ibunyapun mendoakan.

Si anak naik kelas 2.
Anak: Bu aku naik kelas. Mana hp untukku?
Ibu: Nak, doamu dan doaku terkabul, kau naik kelas. Soal hp, kau tau keadaan kita sekarang. Berdoa dan belajarlah terus yang rajin agar naik kelas 3.
Anak: Aku mengerti bu. Nanti kalau saya naik kelas, belikan aku komputer ya?
Ibu: Belajarlah yang rajin nak. Dan berdoalah, apa yang kau minta pasti kau dapatkan nanti.
Si anak berdoa dan belajar dan ibunyapun mendoakan.

Si anak naik kelas 3.
Ibu: Nak, saya bangga kau naik kelas, peringkat satu lagi.
Anak: Kapan kita beli komputernya?
Ibu: Nak, ...
Anak: Bagaimana sih! Ibu kan selalu bilang: "Berdoalah, apa yang kau minta pasti kau dapatkan nanti."
Ibu: ... (meneteskan air mata)
Anak: Pokoknya aku mau hp dan komputer, titik!
Ibu: (Lembut tapi tegas) Nak, kau sudah sma, kau sudah besar dan sekarang kelas 3. Kau tau kan, masa depanmu ada di tanganmu. Kau yang menentukan masa depanmu. Ibu dan bapakmu berdoa untukmu dan melakukan semua untuk membantumu. Sampai saat ini SPP dan kebutuhanmu yang lain bisa kami penuhi. Setahun lagi ... (air mata menetes).
Anak: Aku mengerti ... (dipeluknya ibunya)
Ibu: Gunakanlah dan manfaatkan komputer di lab sekolah sebaik mungkin. Bila memang perlu kau boleh ke warnet untuk belajar. Nak, ...
Anak: Aku mengerti ... (dipeluknya ibunya lebih erat)
Ibu: Belajarlah yang rajin nak. Dan berdoalah, apa yang kau minta pasti kau dapatkan nanti.

Si anak berdoa dan belajar dan ibunyapun mendoakan. Si anak lulus sma.
Sang ibu terbayang akan permintaan anaknya tapi, karena keadaan, dia tak pernah berani menjanjikan untuk membelikannya. Kemudian terlintas di pikirannya, sejak melahirkan anaknya dan kemudian membesarkannya sampai lulus sma seberapa besar jumlah biayanya? Nilai hp dan komputer pasti tak cukup untuk menggantinya. Tapi, seorang ibu tak hendak membuat hitung-hitungan dengan anak.

Beberapa hari kemudian si anak memberitahu bahwa dia diterima di perguruan tinggi dengan beasiswa. Sang Ibu meneteskan air mata haru penuh syukur dan bangga.
Dua minggu kemudian pada acara pelepasan di sekolah sang ibu naik ke atas panggung mendampingi sang anak menerima hadiah sebuah laptop dan sebuah iPod. Selama di sekolah sang ibu hanya tersenyum kepada sang anak (selebihnya dia simpan untuk dicurahkan di rumah). Di hanya bilang "Nak, berterimakasihlah pada guru-gurumu."

18 November 2011

banyak hal yg hilang

awal sedikit sedikit
lama lama mengapa jadi menipis
akhirnya malah habis

Dahulu tiga juz
tereduksi menjadi
dua juz, satu juz, setengah juz
akhirnya hanya ingat jus..
jus alpukat..jus melon.. jus sirsak..





Dahulu shaum Daud..
mengendur menjadi shaum senin kamis..
lalu mulai lupa ayyamul bidh..
tinggallah tak makan hanya pukul 9 malam hingga pukul 5 esok paginya..

Dahulu tahajud full version..
lalu tak sempat dan yang penting paginya harus Shalat Duha..
tak sempat juga? yang penting rawatib bisa terjaga
lalu kuliah
lalu praktikum
lalu capek
lalu
lalu
akhirnya usahakan saja agar sholat “tepat pada waktunya”

Dahulu jilbab ini menutup lebar seluruh tubuh
perlahan naik hingga ke siku..
lalu tak apalah cuman sampai bahu, yang penting tetap dengan kata-kata pamungkas “yang penting masih syar’i”
perlahan kenapa tak sekalian saja dibuat melilit agar lebih menarik?

Dahulu rok menjadi pakaian wajib
singkuh rasanya jika sempit membekap tubuh
perlahan berubah model agar lebih gaya
kenapa tak sekalian menggunakan celana panjang agar lebih bebas kemana-mana??

Dahulu murottal mengalun menemani setiap saat sembari berusaha menjaga hafalan
ditemani penyemangat berupa nasyid-nasyid bersyair haraki
lalu semakin banyak nasyid bersyair mendayu
akhirnya lagu-lagu populer terbaru menjadi playlist nomor satu

Dahulu enggan menghabiskan waktu sia-sia
lalu mulai tergoda untuk cinta bola
buat akhwatnya makin doyan saja sama dorama
dahulu mubah dihidari sekarang mubah senantiasa

Dahulu paling anti komunikasi tidak penting antar jender
lalu mulai memberi ruang dengan alasan tukar informasi
bergulir menjadi hubungan antara dua hati
pada akhirnya saling berkomitmen hanya dengan modal janji

keimanan ini sangat mudah untuk bisa menjadi tipis,
dengan diri yang selalu mendapati hal baru setiap harinya
mendapatkan informasi ini itu
berita disana sini
membuat jurang toleransi pada diri kadang semakin lebar
“Tak ada salahnya aku begini, kan mereka juga seperti itu”

Amalan-amalan itu semakin terkikis dengan rendah komitmen untuk tegas pada diri sendiri
tak apa melakukan yang mubah tetapi jangan kalah dengan yang mubah..

Teringat kisah para salafus salih, bahkan hanya ‘berani’ bermain aman’ di ranah halal dan sunah.. tak ‘berani’ menjejaki yang mubah
karena khawatir terbiasa dengan yang mubah dan bisa terseret ke satu tingkat di bawahnya.

pensil



Seorang anak bertanya kepada neneknya yang sedang menulis sebuah surat.

"Nenek lagi menulis tentang pengalaman kita ya? atau tentang aku?"

Mendengar pertanyaan si cucu, sang nenek berhenti menulis dan berkata kepada cucunya,
"Sebenarnya nenek sedang menulis tentang kamu, tapi ada yang lebih penting dari isi tulisan ini yaitu pensil yang nenek pakai".

"Nenek harap kamu bakal seperti pensil ini ketika kamu besar nanti" ujar si nenek lagi.

Mendengar jawab ini, si cucu kemudian melihat pensilnya dan bertanya kembali kepada si nenek ketika dia melihat tidak ada yang istimewa dari pensil yang nenek pakai.

"Tapi nek sepertinya pensil itu sama saja dengan pensil yang lainnya." Ujar si cucu

Si nenek kemudian menjawab, "Itu semua tergantung bagaimana kamu melihat pensil ini."
"Pensil ini mempunyai 5 kualitas yang bisa membuatmu selalu tenang dalam menjalani hidup, kalau kamu selalu memegang prinsip-prinsip itu di dalam hidup ini."

Si nenek kemudian menjelaskan 5 kualitas dari sebuah pensil.

"Kualitas pertama, pensil mengingatkan kamu kalo kamu bisa berbuat hal yang hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, kamu jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkah kamu dalam hidup ini. Kita menyebutnya tangan Tuhan, Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya" .

"Kualitas kedua, dalam proses menulis, nenek kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil nenek. Rautan ini pasti akan membuat si pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan kamu, dalam hidup ini kamu harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik".

"Kualitas ketiga, pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar".

"Kualitas keempat, bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalam sebuah pensil. Oleh sebab itu, selalulah hati-hati dan menyadari hal-hal di dalam dirimu".

"Kualitas kelima, adalah sebuah pensil selalu meninggalkan tanda/goresan. Seperti juga kamu, kamu harus sadar kalau apapun yang kamu perbuat dalam hidup ini akan meninggalkan kesan. Oleh karena itu selalulah hati-hati dan sadar terhadap semua tindakan".



penulis : other

siapa kaya siapa miskin



Suatu ketika seorang ayah dari keluarga kaya raya, bermaksud memberi pelajaran bagaimana kehidupan orang miskin pada anaknya. Merekapun menginap beberapa hari di rumah keluarga petani yang miskin di sebuah dusun di tepi hutan.


Dalam perjalanan pulang sang ayah bertanya pada anaknya. “Bagaimana perjalanan kita?” Jawab sang Anak, “Oh sangat menarik ayah.”
“Kamu melihat bagaimana orang miskin hidup?” Sang ayah bertanya.
“Ya ayah”, sahut sang anak.
“Jadi, apa yang dapat kamu pelajari dari perjalanan kita ini?” Tanya sang ayah.

Sang anak menjawab, “Yang saya pelajari kita memiliki satu anjing untuk menjaga rumah kita, mereka punya empat anjing untuk berburu. Kita punya kolam renang kecil di taman, mereka punya sungai yang tiada batas… Kita punya lampu untuk menerangi taman kita, mereka punya bintang yang bersinar di malam hari. Kita memiliki lahan yang kecil untuk hidup, mereka hidup bersama alam. Kita punya pembantu untuk melayani kita, tapi mereka hidup untuk melayani oran lain. Kita punya pagar yang tinggi untuk melindungi kita, mereka punya banyak teman yang saling melindungi”.
Sang ayah tercengang diam mendengar jawaban anaknya. Lalu sang anak melanjutkan,
“Terima kasih ayah, karena ayah telah menunjukkan betapa miskinnya kita”.

 Penulis : other

 
Bukankah ini suatu sudut pandang yang menakjubkan?
Bersyukurlah dengan apa yang telah kita miliki, dan jangan pernah risau dengan apa yang tidak kita miliki. Bersyukurlah walau sekecil apapun rezeki yang kita peroleh…
kaya dan miskin itu hanya sebatas seberapa luas pemikiran dan sudut pandang kita.
semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa dapat memandang segala sesuatu secara bijak


Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Top WordPress Themes